Media News

Tech News

Random Post

Recent Post

Selasa, 27 November 2018
Jejak Kepergian Syeh Abdul Karim Tanara Al - Bantani

Jejak Kepergian Syeh Abdul Karim Tanara Al - Bantani

Padepokan Al-Nawadir -Syeh Abdul Karim Al- Bantani adalah Mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah terakhir yang mampu menyatukan kepemimpinan keseluruhan cabang tarekat. Syekh Abdul Karim merupakan murid dan salah satu khalifah Syekh Achmad Khotib al-Syambasi, penyusun Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.[red].

Lahir di Tanara Serang-Banten, pada awal abad 19. Dari usia belasan tahun, Syekh Abdul Karim Tanara sudah tinggal di Mekah menjadi murid kesayangan Syekh Ahmad Khatib Sambas, khalifah Tarekat Qadiriah.

Setelah mendapatkan ijazah untuk menyebar-luaskan Tarekat Qadiriah, Syekh Abdul Karim pergi ke Singapura sekitar tahun 1869. Tinggal di Singapura selama 3 tahun. Tahun 1872, Syekh Abdul Karim pulang kampung ke Tanara, Banten. Tepatnya di Kampung Lempuyang.

Syekh Abdul Karim mendirikan Pesantren. Dalam waktu singkat santrinya banyak. Dalam waktu singkat pula, Syekh Abdul Karim mempunyai pengaruh paling besar di Banten.

Pemimpin Tarekat Gerakan Kebangkitan.
Gerakan kebangkitan kembali (revival) yang dipimpin Syekh Abdul Karim alias Kiai Ageng memang memperlihatkan sikap yang keras dalam soal-soal keagamaan dan bernada puritan. Tetapi ia bukan seorang revolusioner yang radikal, kegiatan-kegiatannya terbatas pada tuntutan agar ketentuan-ketentuan agama.

Senin, 13 Februari 1876. Syeh Abdul Karim meninggalkan Tanara. Ia terpaksa meninggalkan Banten menuju tanah airnya yang kedua, Makkah, menyusul pengangkatannya sebagai Pemimpin Tarekat Qadiriah, menggantikan Syekh Ahmad Khatib Sambas.

Kembalinya yang kedua kalinya ke Banten Syeh Abdul Karim hanya bermukim di Banten selama 3 tahun, dengan meletusnya pemberontakan Cilegon, petani melawan Belanda (1888)

Syeh Abdul Karim meninggalkan Banten, menurut Sartono, gerakan itu berpaling dari semata-semata sebagai gerakan kebangkitan kembali. Semangat yang sangat anti asing mulai merembesi gerakan tarekat yang telah ditumbuh suburkan Syeh Abdul Karim. Dan pada akhirnya haji-haji dan guru-guru tarekat yang berjiwa pemberontak menempatkan ajaran tarekat sepenuhnya di bawah tujuan politik.

Syekh Abdul Karim disebut sebagai salah satu di antara tiga kiai utama yang memegang peranan penting dalam pemberontakan rakyat Banten di Cilegon pada tahun 1888. Dua tokoh kunci lainnya adalah KH Wasid dan KH Tubagus Ismail.

Sebelum meninggalkan Banten, karena tekanan Belanda, Syeh Abdul Karim berkeliling Banten. Di tempat-tempat yang dikunjunginya, ia berseru kepada rakyat agar berpegang teguh pada ajaran agama, dan menjauhkan diri dari perbuatan mungkar. Ia memilih beberapa ulama terkemuka untuk memperhatikan kesejahteraan tarekat qadiriah. Ia juga pamit kepada para pamong praja terkemuka, dan berpesan kepada mereka untuk menyokong perjuangan para ulama dalam membangun kembali kehidupan keagamaan, dan agar selalu minta nasihat kepada mereka mengenai soal-soal keagamaan.

Menjelang keberangkatannya, kepada murid-murid dekatnya Syekh Abdul Karim mengatakan bahwa dia tidak akan kembali lagi ke Banten selama daerah ini masih dalam genggaman kekuasaan asing. Dia memang tidak terlibat secara langsung pemberontakan yang meletus 12 tahun setelah kepergiannya meninggalkan Banten. Tapi dialah yang menjadi perata jalan bagi murid-murid dan pengikutnya untuk melakukan jihad atau perang suci. Di antara murid-muridnya yang terkemuka, yang mempunyai peranan penting dalam pemberontakan Banten, antara lain Haji Sangadeli dari Kaloran, Haji Asnawi dari Bendung Lampuyang, Haji Abu Bakar dari Pontang, Haji Tubagus Ismail dari Gulacir, dan Haji Marjuki dari Tanara. Mereka juga dikenal sebagai pribadi-pribadi yang punya karisma.

Kepergian Syeh Abdul Karim, ternayata tidak menyurutkan pengaruhnya di Banten. Popularitasnya bahkan meningkat. Rakyat selah dilanda rindu dan ingin bertemu dengannya. Sementara para muridnya sendiri sudah tidak sabar menantikan seruannya untuk berontak.
Tetapi Syekh Abdul Karim tidak memberikan jawaban pasti. Dia selalu memberikan jawaban-jawaban yang samar tentang soal-soal yang sangat penting seperti mengenai pemulihan kesultanan atau saat dimulainya jihad.

Dia hanya mengisyaratkan bahwa waktunya belum tiba untuk melancarkan perang sabil.

Dilema Guru, Dilema Murid.

Pada 1883 murid Syekh Abdul Karim, Kiai Haji Tubagus Ismail, kembali dari Makkah, mendirikan pesantren dan mendirikan cabang tarekat Qadiriah di kampung halamannya, Gulacir. Bangsawan yang ingin menghidupkan kembali kesultanan Banten ini juga dianggap sebagai wali – ia tidak mencukur rambutnya seperti umumnya para haji, dan dalam setiap jamuan hampir tidak pernah makan apa-apa. Ditambah bahwa ia juga cucu Tubagus Urip, yang sudah dikenal sebagai wali, maka dalam waktu singkat KH Tubagus Ismail sudah punya banyak pengikut , dan kepemimpinannya semakin diakui di Banten. Menyadari dirinya mulai menarik perhatian umum, ia pun segera melancarkan propaganda untuk melawan penguasa kafir. Banyak ulama yang mendukungnya seperti Haji Wasid dari Beji, Haji Iskak dari Saneja, Haji Usman dari Tunggak, selain kiai-kiai seperguruannya seperti Haji Abu Bakar, Haji Sangadeli dan Haji Asnawi. Untuk mengkonkretkan rencana pemberontakan, rapat pertama diadakan pada tahun 1884 di kediaman Haji Wasid.

Pada Maret 1887 Haji Marjuki, yang sering pulang pergi Banten-Makkah, tiba di Tanara. Murid kesayangan dan wakil Syeh Abdul Karim ini juga sahabat dekat Haji Tubagus Ismail. Menurut dugaan para pendudukung pemberontakan, kedatangan Haji Marjuki itu adalah atas permintaan sahabatnya itu. Haji Marjuki segera melakukan kunjungan-kunjungan ke daerah-daerah di Banten, Tangerang, Batavia, dan Bogor untuk mendakwahkan gagasan tentang jihad. Propagandanya cepat diterima umum, karena ia bertindak atas nama Syeh Abdul Karim.

Dari penelusuran penulis, yang menemui anak cucu Trah ke 6 Syeh Abdul Karim, bahwa kepergian yang kedua karena rakyat dan kaum petani berontak melawan  belanda dan setelah redampun, Belanda masih mengejar tokoh yang dianggap pemimpin pemberontakan Cilegon yaitu  Syeh Abdul Karim.

Akhirnya Syeh Abdul Karim bersama10 anggota keluarga, enam orang pengawal, dan 40 orang yang menyertainya pergi menuju daerah Kabupaten Pekalongan tepatnya di desa Pegandon Kecamatan Karangdadap, di Pegandon Syeh Abdul Karim membuat pondok pesantren dan membangun masjid yang sampai sekarang dikenal dengan masjid Wali.(menurut penuturan dari Mbah Khuzaini trah ke 4 Syeh Abdul Karim)

Menurut  Mbah Khuzeni (1990), yang tinggal di Podosugih , Kota Pekalongan, ia mengaku masih keturunan ke 4 langsung dari Syeh Abdul Karim, dengan catatan manuskrip yang ditunjukkan bahwa selama di Pegandon Syeh Abdul Karim menggunakan nama tambahan Tholabudin.

Syeh Abdul Karim  selanjutnya dikenal dengan nama Syeh Tholabudin yang sampai wafatnya  dimakamkan di desa Masin Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang, bersanding dengan Mbah Margono pengikut setianya.

Di Pondok Pegandon pesantren selanjutnya diteruskan oleh putranya Syeh Abdurrahman  yang belajar di Mesir, sehingga populer dengan sebutan Syeh Abdurrahman Mesir .

Syeh Abdurrahman mengajarkan agama Islam di kalangan Pegandon dan sekitarnya, dan wafat di Pegandon , makamnya persis belakang  tempat pengimaman masjid Pegandon, selanjutnya pondok pesantren Pegandon diteruskan oleh putranya yang bernama Kyai Sholeh Al- Misri, setelah Kyai Sholeh Al- Misri wafat dan dimakamkan di makam umum Naraban desa Gapuro Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang,  Kiyai H.Ibohim anak dari Kyai Sholeh Al- Misri tidak meneruskan pondoknya setelah menunaikan ibadah haji ke Mekah,  Kiyai Haji Ibrohim menekuni dagang sambil mengajar agama di kampung bener Pecongan kecamatan Wiradesa. Kiyai H. Ibrohim wafat dimakamkan di desa Bener Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan.

Kiyai H.Ibohim  mempunyai 5 orang Putra dan putri, yang salah satu diantaranya Kiyai Bakri yang tinggal di Blarakan, Kebulen Kota Pekalongan. anak dari istri yang berbeda.
Yang pertama yakni Kyai Bakri yang tinggal di Kebulen Kota Pekalongan.

Anak anak Kyai Bakri yang berjumlah 5 orang, yang menetap di rumah induk yakni Kyai Abdullah.(anak ke 3 dari Kiyai Bakri).

Ketika ditemui tim redaksi delikpantura, Ki mas Amat Ramdhon , yang masih Trah ke 6 dari Syeh Abdul Karim, dan juga pengasuh Padepokan Al-Nawadir di Kwayangan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan mengatakan, bahwa pihaknya diserahi oleh mbah Khuzaini adek dari mbah Kiyai Bakri menyerahkan manuskrip catatan tangan trah keturunan Syeh Abdul Karim Tholabudin dengan tulisan arab.

" Iya, saya diserahi manuskrip silsilah Syeh Abdul Karim Tholabudin. Dalam catatan manuskrip tertera bahwa, saya anak kedua dari Kyai Abdullah bin Kyai Bakri bin Kiyai H. Ibrohim bin Kyai Sholeh Al-Misri bin Syeh Abdurohman Mesir bin Syeh Abdul Karim Tholabudin Tanara Al-Bantani," kata Amat Ramdhon. (sambik menunjukkan  manuskrip yang diberikan dari Mbah Khuzaini bin Kiyai H.Irohim).

Menurut mbah Zaini, kata Amat Ramdhon, Syeh Abdul Karim Tholabudin dimakamkan di desa Masin Kecamatan Warungasem. Banyak yang mengisahkan Syeh Tholabudin Masin yang sumbernya belum jelas. Disamping makam Syeh Tholabudin terdapat makam Nyai Retno Dumilah Bupati ke dua Madiun, dalam catatan sejarah babad mataram saat penundudukan Madiun, Panembahan Senopati Sutawijaya memboyong Retno Dumilah dan dijadikan permaisuri, karena menghindari peperangan yang berkepanjangan.

Retno Dumilah yang dipersunting Sutawijoyo dengan terpaksa, ada dua versi, Retno Dumilah melarikan diri, dan versi yang lain setelah Sutowijoyo wafat diperistri dengan Syeh Abdul Karim Tholabudin, sehingga makamnya disandingkan di Masin Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang.

Penulis menelusuri sejarah sampai 15 tahun dan menyambungkan dari beberapa sumber yang ada dan penuturan dari pelaku sejarah.

Silsilah Syeh Abdul Karim.(Trah Prabu Siliwangi)

*Sri Baduga Maharaja Raja Prabu Siliwangi.

*Nyi Mas Rara Santang

*Sunan Gunung Jati ( Syarif Hidayatullah Al-Khan)*.

*Sultan Maulana Hasanuddin*.- *Pangeran Sunyararas.
*Pangeran Wiraraja (Mas Wi).
*Pangeran Wira negara 1 (Mas Nun).+ Putri jepara
*Tubagus Mahmud alias( Mas Kun)
*Ki Mas janta.
*Ki Mas Jamad
*Ki Mas Bugel.
*Ki Mas Ali.
*Ki Mas Ahmad Matin.
*Ki Mas Riyani.
*Mas Tanda.
*Syeh Abdul Karim (Tholabudin)* Banten.

"Syeh Abdurahman Mesir.

*Kiyai Sholeh Al-Misri

*Kiyai Ibrohim.

*Kiyai Bakri.

*Kiyai Abdullah.

*Ki Mas Amat Ramdhon. 

*Syeh Abdul Karim Tholabudin juga masih keturunan Nabi Muhammad , dari  Syeh syarif Hidayatullah Sunan Gunungjati Cirebon, pernikahan Syarif Abdullah Umdatuddin dengan Nyi Mas Rara Santang. (red).

Senin, 26 November 2018
no image

Silsilah Ki Mas Ramdhon Elang Aryadita

*TRAH PAJAJARAN*
-------------------------
TRAH ke 19 Syeh Syarif Hidayatullah.
TRAH ke 21 Prabu Siliwangi .
--------------------------
**Mahaprabu Niskala Wastu Kancana* (1401 M)   pemerintahan zaman Pakuan Pajajaran Pasundan, yang memerintah Kerajaan Sunda Galuh selama 39 tahun.
I
**Prabu Dewa Niskala*
I
**Sri Baduga Maharaja ( Prabu Siliwangi)*
I
**Nyai Rara Santang*
I
*Sunan Gunung Jati ( Syarif Hidayatullah Al-Khan)*.
I
*Sultan Maulana Hasanuddin*.
I
**Pangeran Sunyararas*
I.
*Pangeran Wiraraja (Mas Wi).
I
*Pangeran Wira negara 1 (Mas Nun).+ Putri jepara
I
*Tubagus Mahmud alias( Mas Kun)
I
*Ki Mas janta.
I
*Ki Mas Jamad
I
*Ki Mas Bugel.
I
*Ki Mas Ali.
I
*Ki Mas Ahmad Matin.
I
*Ki Mas Riyani.
I
*Mas Tanda.
I
*Syeh Abdul Karim (Tholabudin)*
I
*Syeh Abdurahman Mesir.
I
* Syeh Sholeh Al- Misri.
I
*Mbah Kiyai Ibrohim.
I
*Mbah Kiyai Bakri.
I
*Mbah Kiyai Abdullah.
I
*Ki Mas Amat Ramdhon.( Elang Aryadita).

@Sumber dari Manuskrip yang dipegang Mbah Zaeni (putra ke 2 Mbah Kiyai Ibrohim) salah satu keturunan Syeh Abdul Karim, dan beberapa referensi Kerajaan Banten dan Dinas Kebudayaan Provinsi Banten.

Jumat, 23 November 2018
Telusur Jejak Syeh Abdul Karim Al- Bantani

Telusur Jejak Syeh Abdul Karim Al- Bantani

Padepokan  -Syeh Abdul Karim Al- Bantani adalah Mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah terakhir yang mampu menyatukan kepemimpinan keseluruhan cabang tarekat. Syekh Abdul Karim merupakan murid dan salah satu khalifah Syekh Achmad Khotib al-Syambasi, penyusun Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.[red].

Lahir di Tanara Serang-Banten, pada awal abad 19. Dari usia belasan tahun, Syekh Abdul Karim Tanara sudah tinggal di Mekah menjadi murid kesayangan Syekh Ahmad Khatib Sambas, khalifah Tarekat Qadiriah.

Setelah mendapatkan ijazah untuk menyebar-luaskan Tarekat Qadiriah, Syekh Abdul Karim pergi ke Singapura sekitar tahun 1869. Tinggal di Singapura selama 3 tahun. Tahun 1872, Syekh Abdul Karim pulang kampung ke Tanara, Banten. Tepatnya di Kampung Lempuyang.

Syekh Abdul Karim mendirikan Pesantren. Dalam waktu singkat santrinya banyak. Dalam waktu singkat pula, Syekh Abdul Karim mempunyai pengaruh paling besar di Banten.

Pemimpin Tarekat Gerakan Kebangkitan.
Gerakan kebangkitan kembali (revival) yang dipimpin Syekh Abdul Karim alias Kiai Ageng memang memperlihatkan sikap yang keras dalam soal-soal keagamaan dan bernada puritan. Tetapi ia bukan seorang revolusioner yang radikal, kegiatan-kegiatannya terbatas pada tuntutan agar ketentuan-ketentuan agama.

Senin, 13 Februari 1876. Syeh Abdul Karim meninggalkan Tanara. Ia terpaksa meninggalkan Banten menuju tanah airnya yang kedua, Makkah, menyusul pengangkatannya sebagai Pemimpin Tarekat Qadiriah, menggantikan Syekh Ahmad Khatib Sambas.

Kembalinya yang kedua kalinya ke Banten Syeh Abdul Karim hanya bermukim di Banten selama 3 tahun, dengan meletusnya pemberontakan Cilegon, petani melawan Belanda (1888)

Syeh Abdul Karim meninggalkan Banten, menurut Sartono, gerakan itu berpaling dari semata-semata sebagai gerakan kebangkitan kembali. Semangat yang sangat anti asing mulai merembesi gerakan tarekat yang telah ditumbuh suburkan Syeh Abdul Karim. Dan pada akhirnya haji-haji dan guru-guru tarekat yang berjiwa pemberontak menempatkan ajaran tarekat sepenuhnya di bawah tujuan politik.

Syekh Abdul Karim disebut sebagai salah satu di antara tiga kiai utama yang memegang peranan penting dalam pemberontakan rakyat Banten di Cilegon pada tahun 1888. Dua tokoh kunci lainnya adalah KH Wasid dan KH Tubagus Ismail.

Sebelum meninggalkan Banten, karena tekanan Belanda, Syeh Abdul Karim berkeliling Banten. Di tempat-tempat yang dikunjunginya, ia berseru kepada rakyat agar berpegang teguh pada ajaran agama, dan menjauhkan diri dari perbuatan mungkar. Ia memilih beberapa ulama terkemuka untuk memperhatikan kesejahteraan tarekat qadiriah. Ia juga pamit kepada para pamong praja terkemuka, dan berpesan kepada mereka untuk menyokong perjuangan para ulama dalam membangun kembali kehidupan keagamaan, dan agar selalu minta nasihat kepada mereka mengenai soal-soal keagamaan.

Menjelang keberangkatannya, kepada murid-murid dekatnya Syekh Abdul Karim mengatakan bahwa dia tidak akan kembali lagi ke Banten selama daerah ini masih dalam genggaman kekuasaan asing. Dia memang tidak terlibat secara langsung pemberontakan yang meletus 12 tahun setelah kepergiannya meninggalkan Banten. Tapi dialah yang menjadi perata jalan bagi murid-murid dan pengikutnya untuk melakukan jihad atau perang suci. Di antara murid-muridnya yang terkemuka, yang mempunyai peranan penting dalam pemberontakan Banten, antara lain Haji Sangadeli dari Kaloran, Haji Asnawi dari Bendung Lampuyang, Haji Abu Bakar dari Pontang, Haji Tubagus Ismail dari Gulacir, dan Haji Marjuki dari Tanara. Mereka juga dikenal sebagai pribadi-pribadi yang punya karisma.

Kepergian Syeh Abdul Karim, ternayata tidak menyurutkan pengaruhnya di Banten. Popularitasnya bahkan meningkat. Rakyat selah dilanda rindu dan ingin bertemu dengannya. Sementara para muridnya sendiri sudah tidak sabar menantikan seruannya untuk berontak.
Tetapi Syekh Abdul Karim tidak memberikan jawaban pasti. Dia selalu memberikan jawaban-jawaban yang samar tentang soal-soal yang sangat penting seperti mengenai pemulihan kesultanan atau saat dimulainya jihad.

Dia hanya mengisyaratkan bahwa waktunya belum tiba untuk melancarkan perang sabil.

Dilema Guru, Dilema Murid.

Pada 1883 murid Syekh Abdul Karim, Kiai Haji Tubagus Ismail, kembali dari Makkah, mendirikan pesantren dan mendirikan cabang tarekat Qadiriah di kampung halamannya, Gulacir. Bangsawan yang ingin menghidupkan kembali kesultanan Banten ini juga dianggap sebagai wali – ia tidak mencukur rambutnya seperti umumnya para haji, dan dalam setiap jamuan hampir tidak pernah makan apa-apa. Ditambah bahwa ia juga cucu Tubagus Urip, yang sudah dikenal sebagai wali, maka dalam waktu singkat KH Tubagus Ismail sudah punya banyak pengikut , dan kepemimpinannya semakin diakui di Banten. Menyadari dirinya mulai menarik perhatian umum, ia pun segera melancarkan propaganda untuk melawan penguasa kafir. Banyak ulama yang mendukungnya seperti Haji Wasid dari Beji, Haji Iskak dari Saneja, Haji Usman dari Tunggak, selain kiai-kiai seperguruannya seperti Haji Abu Bakar, Haji Sangadeli dan Haji Asnawi. Untuk mengkonkretkan rencana pemberontakan, rapat pertama diadakan pada tahun 1884 di kediaman Haji Wasid.

Pada Maret 1887 Haji Marjuki, yang sering pulang pergi Banten-Makkah, tiba di Tanara. Murid kesayangan dan wakil Syeh Abdul Karim ini juga sahabat dekat Haji Tubagus Ismail. Menurut dugaan para pendudukung pemberontakan, kedatangan Haji Marjuki itu adalah atas permintaan sahabatnya itu. Haji Marjuki segera melakukan kunjungan-kunjungan ke daerah-daerah di Banten, Tangerang, Batavia, dan Bogor untuk mendakwahkan gagasan tentang jihad. Propagandanya cepat diterima umum, karena ia bertindak atas nama Syeh Abdul Karim.

Dari penelusuran penulis, yang masih anak cucu Trah ke 6 Syeh Abdul Karim, bahwa kepergian yang kedua karena rakyat bertonak melawan  belanda dan setelah redampun, Belanda masih mengejar tokoh yang dianggap pemimpin pemberontakan Cilegon yaitu  Syeh Abdul Karim.
Akhirnya Syeh Abdul Karim bersama10 anggota keluarga, enam orang pengawal, dan 40 orang yang menyertainya pergi menuju daerah Kabupaten Pekalongan tepatnya di desa Pegandon Kecamatan Karangdadap, di Pegandon Syeh Abdul Karim membuat pondok pesantren dan membangun masjid yang sampai sekarang dikenal dengan masjid Wali.

Menurut penuturan Mbah Zaeni (1990), yang tinggal di Podo Sugih Kota Pekalongan, ia mengaku masih keturunan ke 4 langsung dari Syeh Abdul Karim, dengan catatan manuskrip yang ditunjukkan bahwa selama di Pegandon Syeh Abdul Karim menggunakan nama tambahan Tholabudin.

Syeh Abdul Karim  selanjutnya dikenal dengan nama Syeh Tholabudin yang sampai wafatnya  dimakamkan di desa Masin Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang, bersanding dengan Mbah Margono pengikut setianya.

Di Pondok Pegandon pesantren selanjutnya diteruskan oleh putranya Syeh Abdurrahman  yang belajar di Mesir, sehingga populer dengan sebutan Syeh Abdurrahman Mesir .

Syeh Abdurrahman mengajarkan agama Islam di kalangan Pegandon dan sekitarnya, dan wafat di Pegandon , makamnya persis belakang  tempat pengimaman masjid Pegandon, selanjutnya pondok pesantren Pegandon diteruskan oleh putranya yang bernama Kyai Sholeh Al- Misri, setelah Kyai Sholeh Al- Misri wafat dan dimakamkan di makam umum Naraban desa Gapuro Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang,  H.Ibohim anak dari Kyai Sholeh Al- Misri tidak meneruskan pondoknya setelah menunaikan ibadah haji ke Mekah,  Haji Ibrohim menekuni dagang sambil mengajar agama di kampung bener Pecongan kecamatan Wiradesa. H. Ibrohim wafat dimakamkan di desa Bener Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan.

KH.Ibohim  mempunyai beberapa putra diantaranya  yakni Kyai Bakri yang tinggal di Kebulen Kota Pekalongan , H. Zaenuri dan   Mbah Zaini yang tinggal di Podo sugih  Kota Pekalongan.(yang memegang manuskrip silsilah keturunan sampai ke Syeh Abdul Karim).

Kyai Bakri mempunyai anak diantaranya. 1. Mudzakir. 2 Kyai Affandi, 3.Kyai Abdullah, 4. Ahwan dan 5 Fajriyah.

Penulis menyempatkan bertemu dengan Ki mas Amat Ramdhon , yang masih Trah ke 6 dari Syeh Abdul Karim, pengasuh Padepokan Al-Nawadir di Kwayangan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan, pihaknya mengatakan, bahwa mbah Zaini adek dari mbah Kiyai Bakri menyerahkan manuskrip catatan tangan trah keturunan Syeh Tholabudin dengan tulisan arab.

" Iya, saya yang diserahi manuskrip trah Syeh Abdul Karim, dalam manuskrip tertera , saya anak kedua dari Kyai Abdullah bin Kyai Bakri bin H. Ibrohim bin Kyai Sholeh Al-Misri Misri bin Syeh Abdurohman Mesir bin Syeh Abdul Karim Tholabudin Tanara Al-Bantani," kata Amat Ramdhon, (dasar manuskrip yang dipegang Mbah Zaini bin H.Irohim).

Menurut mbah Zaini, kata Amat Ramdhon, Syeh Abdul Karim Tholabudin dimakamkan di desa Masin Kecamatan Warungasem. Banyak yang mengisahkan Syeh Tholabudin Masin yang sumbernya belum jelas. Disamping makam Syeh Tholabudin terdapat makam Nyai Retno Dumilah Bupati ke dua Madiun, dalam catatan sejarah babad mataram saat penundudukan Madiun, Panembahan Senopati Sutawijaya memboyong Retno Dumilah dan dijadikan permaisuri, karena menghindari peperangan yang berkepanjangan.

Retno Dumilah yang dipersunting Sutawijoyo dengan terpaksa, ada dua versi, Retno Dumilah melarikan diri, dan versi yang lain setelah Sutowijoyo wafat diperistri dengan Syeh Abdul Karim Tholabudin, sehingga makamnya disandingkan di Masin Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang.

Penulis menelusuri sejarah sampai 15 tahun dan menyambungkan dari beberapa sumber yang ada dan penuturan dari pelaku sejarah.

Silsilah Syeh Abdul Karim.(Trah Prabu Siliwangi)

*Sri Baduga Maharaja Raja Prabu Siliwangi.

*Nyi Mas Rara Santang

*Sunan Gunung Jati ( Syarif Hidayatullah Al-Khan)*.

*Sultan Maulana Hasanuddin*.- *Pangeran Sunyararas.
*Pangeran Wiraraja (Mas Wi).
*Pangeran Wira negara 1 (Mas Nun).+ Putri jepara
*Tubagus Mahmud alias( Mas Kun)
*Ki Mas janta.
*Ki Mas Jamad
*Ki Mas Bugel.
*Ki Mas Ali.
*Ki Mas Ahmad Matin.
*Ki Mas Riyani.
*Mas Tanda.
*Syeh Abdul Karim (Tholabudin)* Banten.

"Syeh Abdurahman Mesir.

*Kiyai Sholeh Al-Misri

*Kiyai Ibrohim.

*Kiyai Bakri.

*Kiyai Abdullah.

*Ki Mas Amat Ramdhon. 

*Syeh Abdul Karim Tholabudin juga masih keturunan Nabi Muhammad , dari  Syeh syarif Hidayatullah Sunan Gunungjati Cirebon, pernikahan Syarif Abdullah Umdatuddin dengan Nyi Mas Rara Santang. (red).

Minggu, 18 Juni 2017
ILMU KEAGUNGAN

ILMU KEAGUNGAN

Hal : 13 .
Foto : orang sholat di atas batu.

18 - Juni - 2017.

Uraian tentang penciptaan manusia : sebuah kunci mengenal sifat-sifat Ilahiyah.

Padepokan Al-Nawadir - Pekalongan.
Ilmu keagungan adalah mengetahui segala keajaiban penciptaan Tuhan serta keagungan dan kekuasaan-Nya, yang dapat diperoleh dengan pengenalan terhadap hati. Mengenal hati merupakan ilmu Keagungan karena berarti mengetahui segala penciptaan Ilahiyah.

Sebab jiwa itu ibarat kuda dan akal adalah penunggangnya , sedangkan gabungan dari keduanya dikenal dengan sebutan penunggang kuda. Orang yang tidak mengenal dirinya sendiri lalu mengaku telah mengenal orang lain, ibarat orang miskin yang tidak memiliki makanan sedikitpun untuk dirinya sendiri lalu dia mengaku telah memberi makanan kepada fakir miskin yang berada di daerahnya. Fenomena ini sungguh tidak masuk akal.

Menggapai Kemuliaan.
---------------------

Jika kamu mengetahui ketinggian, kemuliaan, kesempurnaan, dan keagungan yang tersembunyi dibalik semua ini---setelah mengetahui bahwa substansi hati adalah substansi yang mulia-- maka kamu berarti telah dianugerahi petunjuk, dan boleh jadi setelah itu ia akan menjadi tersembunyi darimu. Jika kamu tidak berusaha mencarinya atau bahkan melupakan dan menyia-nyiakannya, maka kamu akan menjadi orang yang merugi di akhirat kelak. Oleh karenanya, bersungguh-sungguh lah dalam mencarinya dan tinggalkanlah segala kesibukan dunia.

Kemuliaan yang tidak tampak di dunia, di akhirat kelak akan berwujud kebahagiaan tanpa disertai kesusahan, keabadian tanpa kehancuran, kekuatan tanpa kelemahan, kepandaian tanpa kebodohan, dan akan memperoleh Keindahan dan keagungan.
Namun, pada saat ini tidak ada sesuatu yang lebih rendah daripada nya karena ia miskin penuh kekurangan, akan tetapi kemuliaan tersebut akan diperolehnya kelak pada hari akhir ketika Kimiya Kebahagiaan diletakkan pada substansi hati hingga ia bersih dari segala sifat kebinatangan, dan akhirnya ia mencapai derajat malaikat.

Jika ia lebih cenderung kepada kenikmatan dunia, maka pada hari kiamat kelak sifat kebinatangan tersebut akan tampak dengan wujud debu dan siksapun akan ditimpakan kepadanya. Na'udzubillah min dzalika ( kami memohon perlindungan kepada Allah dari semua itu ), kami memohon pertolongan dari-Nya. Dia adalah sebaik-baik Penguasa dan Penolong.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Semoga Dia melimpahkan rahmat-Nya kepada junjungan kita nabi Muhammad saw, kepada keluarga dan para sahabatnya. Amien.

@Amat Ramdhon .( Kimiya as-Sa'adah - Al- Ghazali​.)............ Khatam.
Sabtu, 17 Juni 2017
Kenikmatan dan kebahagiaan manusia terletak pada pengenalan terhadap Allah SWT.

Kenikmatan dan kebahagiaan manusia terletak pada pengenalan terhadap Allah SWT.

Hal :12
Foto: ilustrasi Mengenal Allah SWT.
18 - Juni 2017.

Padepokan Al-Nawadir- Pekalongan.
Ketahuilah bahwa kebahagiaan, kenikmatan dan kesenangan setiap sesuatu terletak pada karakter yang dimilikinya, misalnya kenikmatan mata terletak pada rupa yang menawan, kenikmatan telinga terletak pada bunyi yang indah, demikian pula seluruh anggota tubuh dengan segala karakter yang dimilikinya.
Sedangkan kenikmatan hati yang paling nyata terletak pada pengenalan terhadap Allah SWT, karena hati memang diciptakan untuk itu.

Ketika manusia tidak mengetahui sesuatu kemudian ia mengetahuinya, maka ia akan merasa sangat senang. Ibaratnya permainan catur, jika ia mengetahui cara bermainnya, maka ia akan senang memainkannya. Dan ketika dia dilarang untuk bermain, maka ia tidak mau meninggalkannya karena tidak kuasa bersabar.

Demikian pula jika ia mengenal Allah SWT , maka ia akan sangat senang, dan tidak bisa bersabar untuk segala melihat-Nya, karena kenikmatan hati terletak pada pengenalan terhadap Allah SWT. Jika pengenalannya​ lebih besar, maka kenikmatan yang diperolehnya pun lebih besar.

Dengan demikian juga jika manusia mengenal seorang menteri, maka ia akan senang, dan seandainya ia mengenal presiden , maka ia akan lebih merasa senang.
Tidak ada wujud di dunia ini yang lebih mulia dari pada Allah, karena kemuliaan segala wujud ada pada-Nya dan bersumber dari-Nya. Segala keajaiban dunia merupakan rencana penciptaan-Nya. Maka tidak ada perkenalan yang lebih mulia dibanding perkenalan dengan Allah , dan tidak ada kenikmatan yang lebih indah dibandingkan nikmatnya mengenal Allah, serta tidak ada pemandangan yang lebih mempesona dibandingkan menyaksikan kehadiran-Nya.

Segala kenikmatan dunia bergantung pada jiwa. Jika jiwa sudah mati , maka kenikmatan dunia akan sirna.

Sedangkan nikmatnya mengenal Tuhan bergantung pada hati, dan kenikmatan tersebut tidak akan sirna meski hati telah mati, karena hati tidak akan binasa dengan kematian, bahkan kenikmatannya bertambah besar dan cahayanya lebih bersinar , karena ia telah keluar dari alam kegelapan menuju alam cahaya.


@Amat Ramdhon ( Kimiya as-Sa'adah/ Al-Ghazali). Inda Allah satu bab lagi hal: 13
Khatam.  Dengan judul : Uraian rentang penciptaan manusia, sebuah kunci mengenal sifat-sifat Ilahiyah, disebut juga dengan Ilmu Keagungan.



Menyaksikan Keajaiban dalam Keadaan Sadar.

Menyaksikan Keajaiban dalam Keadaan Sadar.

Hal : 11.
Foto : Keajaiban Alam.
18 - Juni - 2017.

Padepokan Al-Nawadir - Pekalongan.
Kamu jangan mengira bahwa rahasia yang pernah kami terangkan diatas hanya akan tersingkap dalam keadaan tidur atau ketika mati saja, tetapi ia juga termasuk dalam keadaan sadar bagi orang yang berusaha sungguh-sungguh dan sering melakukan riyadhah ( latihan jiwa), terhindar dari pengaruh nafsu dan amarah serta dari akhlak tercela dan perilaku buruk. Jika seseorangduduk di tempat yang sunyi dan mengosongkan jalur indera, membuka penglihatan batin dan pendengarannya, membiarkan hati berhubungan dengan dunia malakut seraya berdzikir terus-menerus dengan menyebut Allah, Allah, Allah dengan hati dan lisannya, hingga ia merasa betul-betul tidak menerima informasi apapun baik dari dirinya sendiri maupun dari dunia ini, dan dia tidak melihat apapun kecuali Allah SWT, maka kemapuan luar biasa akan terjadi. Dalam keadaan sadarnya ia dapat melihat sesuatu yang dilihatnya saat tidur dan akan tampak baginya ruh-ruh malaikat dan para nabi, wujud-wujud yang indah penuh pesona dan anggun serta tersingkap baginya kerajaan langit dan bumi.
Ia akan menyaksikan sebuah kenyataan yang tidak dapat diurai dan dicirikan, sebagaimana sabda Nabi saw :

"Bumi dikerutkan bagiku hingga aku dapat melihat sesuatu yang berada di timur dan barat."

Allah SWT berfirman :

"Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan di langit dan bumi."(Q.S. al-An'am:75).

Karena seluruh pengetahuan Nabi as, diperoleh melalui jalur ini dan bukan jalur indera, sebagaimana firman Allah SWT:

Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan."(Q.S .al-Muzammil : 8).

Dalam arti bahwa hatinya bebas dan bersih dari segala sesuatu serta senantiasa berdoa kepada Allah SWT dengan sepenuh harapan.

Pada saat sekarang ini, jalan tersebut dikenal dengan sebutan jalan para sufi, sedangkan jalan pengajaran lebih banyak ditempuh oleh para ulama. Kedudukan yang mulia ini akan lebih mudah ditempuh melalui jalan kenabian. Fenomena yang serupa dengan diatas adalah ilmu para wali, karena ilmu tersebut sampai ke hati mereka tanpa adanya perantara, melainkan dari Hadratul Haq, sebagaimana firman Allah SWT :

" Telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami".( Q.S Al- Kahfi:65).

Jalur ini tidak dapat dipahami kecuali dengan tajribah ( pengujian), karena sesuatu yang tidak dapat diperoleh melalui rasa, maka tidak dapat diperoleh melalui pengajaran. Namun hal yang mesti dilakukan adalah meyakininya sehingga cahaya kebaikan tidak terhalang bagi dirinya, yakni cahaya dari keajaiban hati. Barangsiapa tidak melihatnya​, maka ia tidak akan meyakininya, sebagaimana firman Allah SWT :

"Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya."( Q.S Yunus:39).

Dan firman yang lainnya :

"Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata : ini adalah dusta yang lama."( Q.S. Al- Ahqaf:11).

Menjaga kesucian hati
------------------
Janganlah kamu menduga bahwa fenomena diatas hanya tertentu bagi para nabi dan para wali, karena substansi manusia menurut asal kejadiannya ditujukan untuk itu. Sama misalnya dengan besi yang dijadikan dengan bahan pembuatan cermin untuk melihat wajah dunia. Kalau cermin tersebut berkarat atau ternoda, berarti ia butuh dikilapkan atau dibersihkan. Karena jika demikian, ia akan menghasilkan gambaran yang rusak. Begitu juga dengan kondisi hati, jika dikuasai oleh nafsu dan maksiat, maka ia tidak akan mampu mencapai derajat ini, meskipun semestinya ia dapat menggapainya sebagaimana sabda Nabi saw :

" Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci "

Demikian pula manusia menurut fitrahnya meyakini rububiyyah ( ketuhanan) sebagaimana firman Allah SWT :

"Fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu".( Q.S ar- Rum :30)

Para nabi dan para wali adalah keturunan Adam juga, sebagaimana firman Allah SWT :

"Katakanlah : Bahwa aku hanyalah seorang manusia seperti kamu".( Q.S Fushshihat:6)

Barangsiapa menanam, maka ia akan menuai. Barangsiapa berjalan maka akan sampai. Dan barangsiapa mencari​, maka ia akan mendapatkan. Upaya pencarian tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali dengan mujahadah ( bersungguh-sungguh) , sebagaimana pencarian yang dilakukan oleh seorang Syaikh alim dan bijaksana dengan melalui jalur ini. Jika kedua perkara diatas sudah tercapai , maka Allah dengan ketentuan azali-Nya akan menganugerahkan penolongan dan kebahagiaan hingga ia mencapai derajat ini.

@Amat Ramdhon ( Kimiya as-Sa'adah/ Al- Ghazali)..... bersambung.


Kamis, 15 Juni 2017
Hati bagaikan cermin yang memperoleh pengetahuan.

Hati bagaikan cermin yang memperoleh pengetahuan.

Hal : 10.
Foto : Cermin.
17 - Juni - 2017.

Hati sebagai Cermin.
------------------

Padepokan Al-Nawadir- Pekalongan.
Kamu juga mesti mengetahui apa yang tersembunyi dibalik itu semua, karena hati ibarat cermin , dan lauh Mahfudz juga ibarat cermin, sebab di dalam nya terdokumentasi seluruh​ gambaran wujud. Ketikasebuah cermin berhadapan dengan cermin lainnya, maka tersingkaplah gambaran masing-masing wujud dari keduanya. Begitu pula gambaran wujud yang berada di lauh Mahfudz akan tampak dengan jelas dalam cermin hati yang kosong dari nafsu keduniawian. Jika hati penuh dengan nafsu keduniawian, maka ia akan terhalangi dari dunia malakut.
Ketika seseorang yang tidur dengan hati yang kosong dari pengaruh indera, maka akan tampak kepadanya seluruh substansi dunia malakut, dan tampak pula sebagian gambaran wujud yang terdokumentasi di lauh Mahfudz.

Jika pintu indera terkunci, maka yang terjadi sesudahnya adalah gambaran alam khayal. Oleh karenanya, gambaran yang tampak adalah sesuatu yang berada di bawah kulit luar, meski tidak terungkap kebenaran nyata.

Jika hati ditinggal mati oleh pemiliknya, maka daya imajinasi dan indera tidak akan berfungsi lagi, dan apa yang dilihat pada saat itu tidak bersumber dari dugaan dan tidak pula dari daya imajinasi, sebagaimana difirmankan oleh Allah :

" Maka Kami singkapkan darimu tutup matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam".( Q.S. Qaf :22).

Hati yang memperoleh pengetahuan.
---------------------
Ketahuilah bahwa pada setiap hati manusia terdapat ide kebenaran dan realitas nyata yang diperoleh melalui Ilham. Pengetahuan ini tidak diperoleh melalui jalur indera, tetapi langsung menyelinap ke dalam hati tanpa diketahui dari mana ia berasal, karena hati berasal dari dunia malakut, sedangkan indera diciptakan untuk dunia ini, yakni dunia mulk ( dunia bawah ). Dengan demikian , seseorang akan terhalang untuk melihat dunia ini, jika hatinya tidak kosong dari kesibukan indera.

@Amat Ramdhon - ( Kimiya as-Sa'adah- Al-Ghazali )..... bersambung
Back To Top