Selasa, 19 Juli 2016

AL - JILLI : MAKNA PENGETAHUAN dan KEHENDAK,
































Foto  net

Padepokan Al- Nawadir -  *PENGETAHUAN ; Meskipun semua sifat tidak tergantung dan tidak tercampur , pengetahuan sangat berkaitan dengan kehidupan : apapun yang hidup, berarti ia mengetahui.Al - Jilli dalam hal ini menyangkal pandangan Ibn Al-  Arabi bahwa pengetahuan Tuhan diberikan kepada - Nya oleh obyek - obyek yang Dia ketahui. Tuhan secara pasti menetapkan bahwa setiap sesuatu harus seperti yang ditetapkan oleh hakikatnya, tetapi konskuensi yang disimpulkan oleh Ibn Al- Arabi ,yaitu bahwa pengetahuan- Nya atas sesuatu didapatkan dari kebutuhan alamiah mereka, adalah keliru : sebaliknya sifat alamiah mereka dibutuhkan oleh pengetahuan - Nya tentang mereka sebelum mereka diciptakan dan diwujudkan. Dia lah yang mengetahui mereka , bukan kebutuhan yang inhern dalam diri mereka , yang menyebabkan mereka menjadi obyek pengetahuan - Nya.

Setelah itu ( yakni ketika mereka diciptakan ) , sifat alamiah mereka membutuhkan selain yang pertama kalu Dia tahu tentang mereka , dan kemudian Dia untuk kedua kalinya menetapkan bahwa mereka harus seperti apa yang ditetapkan oleh hakikat mereka , menurut apa yang Dia ketahui tentang mereka.

*Kehendak ; Kehendak Tuhan adalah " Penjabaran - Nya atas obyek - obyek pengetahuan - Nya dalam bentuk eksistensi , sesuai dengan kebutuhan pengetahuan - Nya. "
Kehendak kita identik dengan kehendak abadi Ilahiah, tetapi dalam berhubungan dengan kita , ia berpartisipasi dalam kesementaraan kita ( huduts ) , dan kita menyebutnya diciptakan.
Kehendak IlahiHanya sifat yang tidak nyata ini yang mencegah kita untuk mengaktualisasikan apapun yang kita mau : jika kita mengacu kehendak kita kepada Tuhan, segala sesuatu menjadi tunduk kepada - Nya. Al- Jilli menyebutkan satu demi satu sembilan fase kehendak, dimulai dengan dorongan hati ( mail ) dan berakhir dengan cinta paling tinggi dan paling murni ( isya ), yakni tidak ada pecinta dan yang dicinta , sebab keduanya lenyap dalam cinta yang merupakan esensi sejati Tuhan.
Kehendak Ilahi tidak memiliki sebab dan sepenuhnya bersifat bebas, tidak ditentukan oleh kewajiban Yang Maha Mengetahui untuk bertindak sesuai dengan apa yang ditentukan oleh Hakikat - Nya .( seperti yang dipahami oleh Ibn Al- Arabi ).

0 komentar :

Posting Komentar

Back To Top