Senin, 25 Juli 2016

DIALEKTIKA CINTA


PEKALONGAN, Padepokan Amongraga (Al- Nawadir)- * Dari semua master sufisme hanya Ibn 'Arabi saja ( kecuali mungkin Ruzbehan dari Syiraz ) yang paling jauh dalam membeberkan fenomena cinta, untuk itu ia menggunakan dialektika yang bersifat amat pribadi, amat pas untuk menyingkap sumber kebaktian total yang dianut seorang Fedele d'amore . Dari konteks yang telah dijelaskan tadi muncul pertanyaan : Apa yang dimaksud mencintai Tuhan ? Dan bagaimana mungkin kita mencintai Tuhan ?. Biasanya bahasa relegius menggunakan berbagai rumusan tertentu seolah- olah rumusan itu penjelasannya.Padahal persoalannya tidak sesederhana itu. Ibn 'Arabi membawa kita maju kedepan dengan sarana dan observasi ini : " Kuseru - Tuhan untuk mempersaksikan " bahwa jika mengungkung diri dalam hujjah- hujjah filsafat rasional , yang meskipun semua itu memungkinkan kita mengetahui Zat Tuhan melalui jalan peniadaan ( negative way ) , maka tidak akan ada makhluk yang bakal mengalami cinta Tuhan...Agama positif mengajarkan bahwa Dia adalah ini atau itu, penampakan lahiriah dari sifat- sifat ini dipandang absurd oleh nalar filosofis, dan sungguhpun begitu lantaran sifat- sifat positif itulah maka kita mencintai - Nya. Namun dengan demikian wajib atas agama untuk menyatakan bahwa tidak ada satu apapun yang menyerupai Dia.
Disisi lain Tuhan bisa dikenal oleh kita hanya melalui pengalaman kita tentang Dia, sehingga kita bisa mentamsilkan Dia dan menjadikan - Nya sebagai obyek perenungan kita, bukan hanya dalam lubuk hati namun juga dihadapan mata kita dan dalam imajinasi kita, seakan- akan kita melihat- Nya, atau masih lebih tepat lagi  supaya kita benar- benar melihat- Nya...Itulah Dia yang melalui setiap wujud sang kekasih termanifestasi kepada tatapan setiap sang pencinta....dan tidak lain Dia itulah yang dipuja, sebab mustahil memuja suatu wujud tanpa memandang Tuhan dalam wujud itu...karena itulah melalui cinta sejatinya suatu wujud tidaklah mencintai apapun kecuali mencintai Penciptanya.

Namun bila sang kekasih tak pernah terlihat kecuali dalam sebuah bentuk yang merupakan tajalli ( mazhhar -Nya) , jika Dia memang tunggal dalam setiap misal untuk masing- masing individu tunggal , ini karena bentuk ini meskipun menyingkapkan Dia,  juga menyembunyikan Dia . Lalu bagaimana Dia bisa menampilkan diri- Nya dalam bentuk itu jika memang benar bentuk menyembunyikan Dia? . Relasi apa yang menghubungkan kekasih riil dengan bentuk konkret yang membuat Dia kasatmata?.Dan lebih jauh lagi , sebenarnya CINTA macam apakah yang terarah kepada bentuk yang memanifestasikan Dia ini ?. Kapan dia menjadi cinta sejati, dan kapan dia keliru karena terpikat kepada bentuk ?. Dan akhirnya, siapakah sesungguhnya yang menjadi kekasih, namun juga siapakah yang sesungguhnya menjadi pencinta?.

Keseluruhan karya Ibn 'Arabi merupakan jawaban berlandaskan pengalaman atas berbagai pertanyaan diatas. Untuk menentukan kandungan isinya, kita bisa dibimbing oleh apa yang telah kita renungkan dengan begitu jelas, yang dapat diringkas sebagai berikut :   Apa yang kita sebut " CINTA  ILAHI " mempunyai dua aspek ; salah satunya adalah hasrat ( syawq ) Tuhan kepada makhkuknya , helaan nafas derita ( hanin)  Tuhan dalam Esensinya- Nya (perbendaharaan tersembunyi), yang rindu untuk memanifestasikan diri- Nya ke dalam wujud- wujud, agar Dia tersingkap untuk dan oleh mereka, pada aspek lainnya cinta Tuhan , adalah hasrat makhluk kepada Tuhan- Nya, atau dalan kenyataan yang sebenarnya Nafas Tuhan sendirilah yang menampak pada wujud- wujud dan merindu untuk pulang kepada dirinya sendiri.
Dalam realitasnya wujud yang menghela nafas kerinduan  ( nostalgia, al- musytaq ) sekaligus adalah wujud yang dituju oleh nafas kerinduan- Nya ( al- musytaq - ilahi ), meskipun dalam kekentuan konkretnya ( ta'ayun) dia berbeda dari Dia. Mereka bukanlah wujud- wujud  yang heterogen , melainkan suatu wujud yang menjumpai dirinya ( sekaligus satu dan dua, satu dwi tunggal , suatu hal yang cenderung terlupakan ). Hasrat kuat yang satu dan sama itu adalah sebab dari manifestasi ( zuhur ) dan sebab bagi kepulangan ('audah ) . Jika hasrat Tuhan lebih kencang , itu karena Tuhan mengalami dalam dua aspek , sementara menjadi makhluk berarti mengalaminya dalam aspeknya yang kedua saja. Karena Tuhanlah yang dengan ditetapkan dalam bentuk sang pencinta, bernafas kearah diri -Nya karena Dia adalah justru sumber dan asal yang merindukan bentuk tertentu itu, antropomorfosis- Nya sendiri. Jadi cinta berada secara kekal  sebagai suatu pertukaran, suatu pergiliran antara Tuhan dan makhluk : Hasrat yang kuat , kerinduan ( nostalgia)  untuk berbagi derita, perjumpaan yang ada secara abadi dan membatasi wilayah wujud.
Kita memahami hal ini sesuai dengan derajat wujud dan kesanggupan spiritual kita masing- masing . Segelintir orang seperti Ibn 'Arabi telah mengalami pertemuan ini secara visual selama periode waktu yang berkepanjangan. Bagi mereka semua yang telah mengalami dan memahaminya , ini merupakan kerinduan untuk melihat keindahan Tuhan yang muncul pada setiap saat dalam bentuk baru ( yang dikisahkan oleh sang " penafsir hasrat- hasrat kuat " sebagai " hari - hari ilahiah" dan itulah hasrat tanpa batas yang digambarkan ibarat oleh Abu Yazid Bustami " Telah kuminum ramuan cinta, cawan demi cawan tak kunjung habis dan rasa hausku tak hilang- hilang.

@ Amat Ramdhon , #Demikian yang bisa saya sampaikan hanya sebagai awal pembuka tentang dialektika cinta , adapun kedalaman dan isinya tidak mungkin saya tuangkan dalam tulisan ini , dikarenakan pemahaman dan keterbatasan penafsiran bagi pembaca yang berbeda-beda tingkatan spiritualnya, sehingga dikhawatirkan salah tafsir# diambil dari buku judul asli : Imagination creatice dans le Soufisme d' Ibn 'Arabi, terjemahan bahasa inggris: Creative Imagination in the sufism of Ibn Arabi. / Henry Corbin. Terbitan University press,priceyon, NJ . halaman: 181-186.#

0 komentar :

Posting Komentar

Back To Top