Minggu, 24 Juli 2016

HIKMAH PENYATUAN dalam FIRMAN TENTANG MUHAMMAD

PEKALONGAN, Padepokan Al- Nawadir- * Dinisbatkannya hikmah penyatuan kepada Muhammad karena dia adalah ciptaan yang sangat sempurna dari jenis manusia, dimana alasan keseluruhan urusan penciptaan berawal dan berakhir dengannya. Dia adalah seorang Nabi ketika Nabi Adam masih berada di antara air dan tanah liat.(Q.S Al- Bukhari : 119), dan melalui perbuatannya yang elemental ,dia adalah Penutup Para Nabi ( khatam an- nabiyyin ) , yang pertama dari tiga yang tunggal karena semua penyatuan yang lain berasal darinya.

Dia adalah bukti paling jelas bagi Tuhannya , yang telah diberikan totalitas firman- firman ilahi , dimana hal - hal itu dinamai oleh Nabi Adam, sehingga dia menjadi petunjuk terdekat dari triplisitas miliknya, dia menjadikan dirinya bukti dari dirinya sendiri.
Kemudian karena realitas Muhammad ditandai oleh penyatuan primal (al- fardiyyah al- ula ) dan penciptaannya melalui triplisitas ( musallas ) , dia berkata mengenai cinta yang merupakan asal mula semua wujud yang ada. " Tiga hal yang dicintakan kepadaku di dunia ini dari duniamu " , dikarenakan triplisitas (taslis ) melekat di dalam  Muhammad . Kemudian dia menyebutkan wanita - wanita dan wewangian dan menambahkan bahwa dia menemukan kenikmatan dalam sholat.

Dia memulai dengan menyebutkan wanita - wanita dan mengakhirkan penyebutan sholat, karena dalam perwujudan esensi dari wanita , wanita adalah bagian dari pria. Pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri muncul sebelum pengetahuannya tentang Tuhannya, yang terakhir ini merupakan hasil dari yang pertama, sesuai dengan sabdanya " Barang siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya ".Walaupun Muhammad adalah bukti yang sangat jelas dari Tuhannya , akan tetapi setiap bagian Kosmos adalah petunjuk untuk asal mulanya , yang merupakan Tuhannya, jadi, pahamilah !.

Wanita - wanita dicintakan kepada Muhammad dan dia memiliki kasih sayang yang besar pada mereka , karena wanita - wanita selalu digambarkan menurut bagiannya tersebut.
Ini dia jelaskan sebagai yang datang dari Realitas , dalam firmannya berkenaan dengan penciptaan manusia yang elemental, " Maka Aku telah meniupkan ke dalam ruh (ciptaan) Ku "
Tuhan menerangkan Diri- Nya seperti memiliki kerinduan mendalam untuk berhubungan dengan manusia . Sesungguhnya tidak mengejutkan bahwa betapa Tuhan melukiskan kerinduan . Dengan demikian, Dia rindu pada orang - orang yang disayangi melihat mereka dan menginginkan bahwa mereka dapat melihat Dia.
Karena pembuatan manusia terdiri dari empat elemen atau penghibur - penghibur pada tubuh , pernapasan - Nya menghasilkan panas, karena uap lembab pada tubuh. Dengan demikian , melalui pembuatannya, ruh manusia adalah sebuah api, oleh karenanya Allah membicarakannya kepada Nabi Musa bentuk api, dimana Allah berbuat apa yang Dia inginkan. Ketika pembuatannya bersifat alamiyah,jiwanya akan menjadi cahaya, disebut "peniupan" ( nafkh ) karena berasal dari Napas Sang Pengasih, dan melalui napas ini ada peniupan , sehingga esensinya terwujudkan. Ini menurut kecenderungan abadi, bahwa Napas Sang Pengasih implisit dimana manusia adalah manusia.

Kemudian Allah mengeluarkan dari pria sebuah wujud pada citranya, yang disebut wanita, dan karena wanita tersebut muncul pada citra pria, sang pria merasakan kerinduan yang mendalam pada-nya, sebagai sesuatu yang merindukan dirinya sendiri, sedangkan sang wanita merasakan kerinduan pada sang pria, sebagai seorang yang rindu pada yang merindukan. Jadi wanita diciptakan untuk dicintai pria ,karena Allah mencintai apa yang telah diciptakan - Nya pada citra milik- Nya, dimana para malaikat tidak mampu , meskipun mereka memiliki kekuatan besar atau tingkat dan sifat mulia. Dari situ berakarlah afinitas  (munasabah ) antara Allah dan manusia ,dan citra ilahi adalah afinitas yang paling besar, paling mulia dan paling sempurna . Hal ini karena ia merupakan suatu pasangan ( zauj ) yang mempolarisasi wujud Realitas, sebagaimana wanita , dengan kejadian menjadi wujud, mempolarisasi kemanusiaan dengan membuat darinya suatu pasangan , jadi kita memiliki tiga bagian yang tersusun : Allah , pria dan wanita.
Pria rindu pada Tuhannya yang merupakan asal mulanya , sebagaimana wanita rindu pada pria . Tuhannya menjadikan wanita berharga bagi pria, sebagaimana Allah mencintai sesuatu yang ada pada citra- Nya.
Cinta timbul hanya dari seseorang yang memiliki wujud lainnya , sehingga pria mencintai wujud yang dimilikinya , yang merupakan Realitas, yang mana Muhammad sabdakan "dicintakan kepada ku " dan bukan " Aku cinta " secara langsung dari dirinya sendiri. Cinta pria tersebut adalah untuk Tuhannya  dimana dia berada dalam citra - Nya. Cinta ini pada gilirannya membuat dirinya mencintai wanita melalui cinta Allah atasnya, menurut polla cara Ilahi . Ketika seorang pria mencintai seorang wanita , pria itu berusaha menyatu dengan sang wanita , sehingga memungkinkan akan bersatu dalam cinta, dan pada lingkungan elemental tidak terdapat penyatuan yang lebih besar dari pada penyatuan antarseks ( nikah ). Ini secara tepat dikarenakan hasrat yang begitu meliputi semua bagiannya sehingga sang pria diperintahkan untuk menjalankan mandi (igtisal) . Jadi kesucian ( taharah ) adalah mutlak, sebagaimana peniadaan ( fana ) pria pada wanita adalah total pada saat penyempurnaan.
Allah cemburu pada hambanya bahwa sang hamba dapat menemukan kesenangan pada yang lain selain Dia. Jadi Dia membersihkan sang hamba melalui pencucian ( taharah ) , sehingga sang pria difanakan.

Dikarenakan ini ,Rasulullah mencintai wanita- wanita melalui alasan kemungkinan dari penatapan sempurna tentang Realitas pada mereka. Penatapan Realitas tanpa penyokong formal tidaklah mungkin, karena Allah pada Esensinya jauh melewati semua kebutuhan Kosmos. Oleh karenanya, lantaran beberapa bentuk penyokong itu penting, jenis terbaik dan sangat besar adalah penatapan Allah pada wanita  dan penyatuan terbesarnya adalah bahwa diantara pria dan wanita.

Dia mencintai wanita-wanita karena tingkatan mereka ( yang sebenarnya lebih akhir /rendah) dan kemenjadian posisi pasif mereka. Dalam hubungan dengan pria , wanita - wanita sebagai Alam semeata . Allah mewahyukan bentuk Kosmos melalui penunjukan perintah dan Kehendak Ilahi pada wanita, yang pada tingkat bentuk elemental dilambangkan melalui penyatuan pria dan wanita / suami istri.

Barangsiapa mencintai wanita - wanita  dalam cara ini, maka ia mencintai dengan suatu cinta ilahi  ,sedang pria yang cintanya pada wanita dibatasi pada ghairah alamiah, menghilangkan semua pengetahuan yang sebenarnya tentang hasrat ilahi itu . Bagi orang seperti ini , wanita dipandangnya sebagai bentuk belaka , tanpa ruh , sekalipun bentuk itu pada dasarnya dikaruniai ruh. Ini adalah kehampaan , karena orang seperti ini mendekati istrinya atau wanita - wanita lainnya semata-mata untuk sekedar memenuhi kesenangannya akan wanita tersebut, tanpa menyadari Sesuatu Yang Kesenangan- Nya benar-benar ada. Dengan demikian pria tersebut benar- benar tidak mengenal dirinya.


@ A. Ramdhon #  diambil dari kitab : Fusush Al- Hikam / Ibn Arabi ,terjemahan dari judul The Bezels of wisdom / the missionary Society of st Paul the Apostle in the state of New York , 1980.  halaman : 397- 404.

0 komentar :

Posting Komentar

Back To Top