Sabtu, 23 Juli 2016

IMAJINASI YANG KREATIF DAN DOA YANG KREATIF


Padepokan Al- Nawadir - * Konsep tentang imajinasi penengah antara pikiran dan wujud, menjasadnya pikiran dalam bayangan serta hadirnya bayangan dalam wujud adalah konsepsi terpenting yang memainkan peran terdepan dalam filsafat Renaisane dan yang kita temui lagi dalam filsafat Romantisisme. Observasi ini yang diambil dari salah seorang penafsir terkemuka doktrin- doktrin Boehme dan Parakelsu.
Kami ingin menekankan pada satu sisi konsep imajinasi  sebagai hasil magis dari suatu bayangan (image ) , tipe dan model perbuatan magis atau segala perbuatan semacamnya, namun teristimewa berupa tindak penciptaan ( creative action ), dan pada sisi yang lain konsepsi bayangan  sebagai suatu tubuh ( tubuh magis, tubuh mental ), tempat menjasadnya pikiran dan keinginan jiwa. Imajinasi sebagai potensi magis yang kreatif dan melahirkan dunia inderawi, menghasilkan ruh dalam berbagai bentuk dan warna, gagasan mengenai dunia magis yang " diimajinasikan oleh Tuhan " menciptakan doktrin kuno yang ditunjukkan oleh penjajaran kata  imago dan magia yang ditemukan lagi oleh Nivalus melalui Fichte. Namun buru- buru perlu diingatkan Imaginatio  ini tidak boleh dikacaukan dengan fantasi. Seperti telah dicatat oleh Parakelsus,  fantasi tidak seperti imajinasi. Fantasi adalah kerja pikiran tanpa fondasi, dalam tabiatnya fantasi adalah " batu pijakan orang  sinting ".

Peringatan ini penting sekali . Ini perlu untuk memerangi kebingungan masa kini yang berasal dari konsepsi dunia yang membawa kita menuju suatu jalan sempit sebegitu rupa sehingga fungsi " Imajinasi Kreatif " jarang dibicarakan dan lebih sering dibicarakan secara metaforis. Tak ragu lagi persoalan awal muncul : Secara hakiki, daya cipta ( creativity ) apa yang kita atributkan pada manusia?  . Bagaimana mungkin kita akan menerima dan mulai membentangkan ide betapa manusia merasakan suatu kebutuhan untuk tidak hanya melampaui realitas apa adanya, namun juga untuk melampaui kesendirian sang diri yang tertinggal , beserta daya kemampuannya ( untuk melampaui satu - satunya ke - akuannya), bisa jadi berupa suatu obsesi( gangguan jiwa ) yang berbatasan dengan kegilaan, kecuali bila kira telah mengalami , jauh didalam diri kita, kebutuhan untuk ke seberang dan tiba pada keputusan untuk mengambil arah. Benar, istilah kreatif dan aktivitas kreatif adalah bagian dari bahasa sehari - hari kita. Namun terlepas dari apakah tujuan aktivitas ini berupa suatu karya seni atau lembaga, namun obyek- obyek semacam itu  yang berupa ekspresi dan gejala- gejalanya saja  tidak menjadi jawaban atas pertanyaan ini.
Apakah makna kebutuhan kreatif manusia ? Obyek - obyek itu mempunyai tempatnya tersendiri di alam luaran, namun asal- usul kejadian dan makna mereka pertama- tama mengalir dari alam batin tempat mereka dikandung. Hanya alam batin ini saja yang bisa berbagi dalam dimensi aktivitas kreatif manusia dan dengan begitu menerangi makna daya ciptanya dan menerangi organ penciptaan berupa imajinasi.
Karena itu segalanya akan bergantung kepada derajat realitas yang kita berikan kepada alam semesta terimajinasi ini, dan begitu pula bergantung kepada daya riil yang kita gariskan atas imajinasi yang mengimajinasikannya, namun kedua soal ini pada gilirannya bergantung kepada ide mengenai ide penciptaan  ( creation) dan tindak penciptaan (creative act ) yang kita bangun.

Segala hal yang tak bisa didemonstrasikan, yang tak kasatmata dan tak bisa didengar, diklasifikasikan sebagai ciptaan imajin asi manusia, yakni dari buah suatu kecakapan yang memiliki fungsi menghasilkan yang imajiner yang tidak riil.
Dalam konteks agnotisisme seperti ini Tuhan dan segala bentuk Tuhan dikatakan sebagai ciptaan imajinasi dan karenanya tidak riil. Apa jadinya doa kepada Tuhan semacamm itu kalau bukan suatu khayalan sia- sia ?. Saya percaya bahwa secara sekilas kita bisa mengukur betapa lebarnya jurang antara konsep negatif ini dengan konsep yang akan kita bicarakan jika, dengan mendahulului uraian kita atas teks- teks berikut , kita menyahut seolah- olah sedang menjawab tantangan, baiklah, justru Tuhan ini adalah Tuhan, Dia riil dan ada , maka itulah sebabnya mengapa doa yang tertuju kepadanya memiliki makna.

Untuk memahami secara menyeluruh konsep imajinasi yang tadi telah diperkenalkan melalui sebuah ibarat singkat tentang para teosof Renaisans akan dibutuhkan studi luas atas karya- karya mereka , sedangkan dalam tulisan ini akan saya batasi Sufisme dalam islam , khususnya pada aliran Ibn Arabi. Namun antara teosofi Ibn Arabi dan ajaran seorang teosof Renaisans atau aliran Jacob Boehme, terdapat keterkaitan yang cukup mengejutkan untuk bisa mendorong kajian - kajian yang telah saya anjurkan dalam pengantar, mendenahkan situasi yang sama- sama terdapat esoterisme Islam dan Kristen. Pada kedua kedua sisi iti kita menemukan ide bahwa Tuhan memiliki daya Imajinasi , dan bahwa dengan mengimajinasikan alam semesta maka Tuhan menciptakannya; bahwa Dia mengeluarkan semesta dari dalam Diri - Nya, dari virtualitas abadi dan potensi- potensi wujud- Nya , bahwa disana ada dunia tengah diantara jagad ruh murni dan dunia inderawi sebagaimana kata para sufi dunia " indera yang adi inderawi " , dari tubuh magis yang halus " dunia tempat ruh- ruh menjasad dan tubuh- tubuh me rohani ", bahwa inilah dunia tempat imajinasi terus berayun, bahwa didalamnya imajinasi menghasilkan efek yang begitu riil nya sehingga mereka bisa " mencetak " subyek yang berimajinasi, dan bahwa imajinasi " menuang " manusia dalam bentuk (tubuh mental ) yang telah diimajinasikannya.

Bagaimanapun juga, ide terkemuka teosofi mistik Ibn Arabi dan semua teosofi yang terkait adalah berupa ide bahwa secara hakiki  penciptaan adalah suatu teofani ( Penampakan Tuhan, tajalli)  . Dengan begitu , penciptaan adalah suatu tindakan daya imajinatif Tuhan : Imajinasi kreatif  Ilahi ini pada hakikatnya adalah suatu imajinasi penampakan ; wujud- wujud yang " di -cipta -kan " olehnya tinggal dalam eksistensi yang independen falam dunia tengah yang sesuai dengan cara berada ini. Tuhan yang " diciptakan " olehnya jauh dari pengertian produk fantasi yang tidak riil.
Karena imajinasi Aktif manusia adalah organ dari Imajinasi Teofanik mutlak ( tahayyul mutlaq) nya belaka. Dengan demikian  Doa memiliki " daya cipta " namun Tuhan yang dituju oleh doa, lantaran Dia diciptakan olehnya adalah justru Tuhan yang mengungkapkan diri kepada doa dalam penciptaan ini, dan penciptaan ini sekaligus adalah salah satu diantara banyak teofani dimana pelakunya yang riil adalah Tuhan yang mengungkapkan diri - Nya kepada diri- Nya sendiri.

Sejumlah konsep dan paradoks akan menyusul dalam rangkaian yang teliti . Kami harus mengutarakan kembali sebagaimana yang bersifat hakiki sebelum membahas organ Imajinasi Teofanik dalam diri manusia yang berupa hati dan daya cipta hati.

Demikian sedikit keterangan tentang imajinasi dan bila sekedar untuk dijadikan pengetahuan maka pahamilah dengan benar dan minyalah penjelasan kepada yang memahami hal itu dan apabila mempraktekkan harus dengan bimbingan seorang Mursyid.


@A. Ramdhon # Imagination creative dans le Soufisme d' Ibn 'Arabi. / Henry Corbin, # University Press..( halaman 231- 236 )

0 komentar :

Posting Komentar

Back To Top