Kamis, 21 Juli 2016

MIKRO KOSMOS , MAKROKOSMOS DAN MANUSIA SEMPURNA

foto : Republika
Padepokan Al- Nawadir -  #Ketika Ibnu Arabi membahas manusia ,dia biasanya mengarahkan perhatiannya pada manusia sempurna, bukan manusia yang dikenal sebagai makhluk pelupa dan bodoh. Tuhan menciptakan manusia sebagai ciptaan terakhir, yang mana Syaikh  Ibn Arabi membahas alur kosmologi antar manusia dan strata yang beragam berbagai makhluk makrokosmos dari banyak konteks.
Dalam suatu penelaahan singkat , tidak ada yang dapat saya lakukan kecuali lebih baik membahas determinan yang sangat fundamental dari eksistensi manusia :  fakta penjelmaan bentuk Tuhan.
Disini penting diingat bahwa didalam hadits, " Tuhan menciptakan Adam menurut bentuk- Nya " didalam bahasa arab Tuhan diterjemahkan " Allah" , yang dikenal dengan  " Nama Yang Maha Pengasih " sejak itu nama Tuhan yang lain merujuk kepada- Nya. Maka ketika seorang menyebut " Tuhan " ,  secara implisit orang tersebut juga menyebut semua Nama Tuhan, termasuk Maha Pengasih, Pemaaf, Adil, Pencipta, Pemurah, Perkasa, Agung, Pemalu dan seterusnya. Tidak ada nama lain yang mencakup seluruh nama dengan sendirinya, sejak setiap nama- nama lain telah memiliki ciri khususnya sendiri dan membatasi karakteristik yang terasingkan dengan nama-nama lain.

Tuhan menciptakan manusia menurut bentuk- Nya . Oleh karena itu, Dia menciptakan mereka sesuai dengan semua nama- nama Tuhan . Inilah salah satu interpretasi ayat Al- Quran yang menyatakan bahwa Tuhan mengajari Adam semua nama- nama ( Q.s 2: 30 ). Hasilnya, manusia menyuguhkan suatu variasi aspek-aspek atau " wajah " ( wajh ) Tuhan yang tidak terbatas. Jika semua sifat- sifat dan kegiatan manusia sepanjang sejarahnya dibawa bersamaan di satu waktu dan tempat,  kita dapat mulai memahami apa implikasi penjelmaan semua nama- nama tersebut. Adalah serba meliputi manusia inilah yang dengan tepat menyediakan eksistensi setiap jenis kemungkinan manusia, setiap sifat yang dapat dibayangkan dan tindakan yang dapat dipikirkan, apakah itu baik atau buruk, ningrat atau orang biasa , pengasih atau berjiwa bengis.

Jika Adam diciptakan tidak menurut bentuk Tuhan, namun menurut bentuk Yang Maha Pemurah, maka tidak ada manusia yang mampu menangis atau bersikap bengis. Jika dia diciptakan menurut sifat Yang Maha Pendendam, maka tidak akan ada seorang pun yang pernah memaafkan musuhnya. Jika diciptakan menurut sifat Yang Maha Kuasa atau Maha Tak Terjangkau , tiada seorang pun yang pernah menaati Tuhan atau kepada orang lain. Namun ketika manusia tercipta menurut seluruh nama- nama - Nya, mereka dapat menampilkan berbagai sifat yang pernah dipikirkan. Kemudian nama- nama Tuhan tersebut tidak lain kecuali sebagai penanda bagi kemungkinan modalitas - modalitas lahiriah dan bathiniah dari wujud.

Sekali lagi, ketika manusia mengerti semua nama- nama, maka masing- masing manusia secara individual merefleksikan setiap atribut Tuhan. Namun selama manusia masih hidup., nama- nama Tuhan memanifestasikan dirinya di berbagai jenis intensitas, kombinasi. Hasilnya mungkin dapat  membuat kepribadian  selaras dan seimbang, mungkin juga tidak.
Menurut analisis terakhir, mode pada  dimana nama-nama tersebut menampilkan sifat- sifatnya yang menentukan nasib manusia di dunia ini dan di akhirat.

Atribut- atribut wujud tersingkap di wilayah non- manusia menurut kombinasi-kombinasi yang menyebabkan satu atau lebih atribut- atribut mendominasi terhadap atribut-atribut yang lain. Sebaliknya manusia mampu mengonsentrasikan dan menyatukan sifat-sifat wujud sedemikian rupa ,didalam suasana ideal, sehingga setiap atribut berada dalam keseimbangan yang sempurna dengan atribut-atribut lain.
Manusia hadir ke dunia ini secara potensial sebagai suatu bentuk Tuhan baik laki-laki maupun perempuan , hanya saja ada kesempurnaan yang menyeluruh karena keduanya.
Setiap hal yang ada selain manusia dan jin ,entah malaikat, hewan , tumbuhan atau mineral- diciptakan menurut tingkatannya.
Hanya ada satu ciptaan selain manusia yang diciptakan menurut bentuk Tuhan yaitu kosmos dalam keseluruhan nya yang mencakup manusia.

# demikian keterangan yang sangat singkat  dan tentunya sebuah pengetahuan tak akan maksimal kalau sekedar memahami lewat tulisan yang terbatas." Wallahu A' lam".


@Imaginal Worlds,Ibn Arabi and the Problem of Relegious Diversity/  CHITTICK WILLIAM C. . terbitan State University of New- York./ halaman 56 .

0 komentar :

Posting Komentar

Back To Top