Sabtu, 23 Juli 2016

TIDUR ADALAH SAUDARA KEMATIAN







Padepokan Al - Nawadir - * Kalau seribu perangkap burung menangkap telapak kaki kami. Maka tidak ada yang menciderai kita, ketika engkau telah menjadi makna.
Dalam setiap malam engkau memutlakkan ruhmu dari rahasia jasad. Mencongkel cahaya dari (akal yang bising ). Ruh - ruh terlepas dalam setiap malam dari sangkar yang sesak ini. Beristirahatlah dari hukum, ungkapan , dan kisah - kisah.
Dalam keheningan malam ia tak merasakan tempatnya sebagai penjara , sebagaimana keluarga penguasa tidak dapat merasakan kekuasaannya.

Ketika tidur,  tak ada lagi keinginan. Engkau tak lagi berpikir mengumpulkan keuntungan. Tak adalagi imajinasi manusia didalamnya. Itulah keadaan - keadaan orang arif tanpa tidur.
Allah ta'ala berfirman " Engkau mengira mereka sedang bangun , padahal  mereka itu tengah tidur. ( Q.S Al Kahfi. 18 : 18 ). Maka janganlah engkau memungkirinya.
Mereka tertidur dari keadaan dunia, baik ketika siang maupun malam. Mereka seperti halnya pena didalam genggaman Tuhan , barangsiapa yang tidak melihat genggaman itu ketika menulis , maka ia mengira bahwa tulisan itu berasal dari gerakan pena.

Itulah sekejap kilat keterangan tentang orang arif yang dijelaskan ( Allah ) : " Adapun  ( rata- rata makhluk ) telah terkalahkan oleh tidurnya indera. Jiwa - jiwa mereka bergentayangan di padang pasir tanpa ada perumpamaan ".  Beristirahatlah wahai ruh dan badan !.
Tetapi engkau yang terjebak  pada perangkap siulan memanjangkan jaring baru lagi . Lalu engkau memimpin mereka semuanya dalam keadilan dan sang hakim.
Sepotong cahaya pagi mengembalikan mereka dari rumah kembalu ke alam bentuk, sebagaimana yang dilakukan oleh Isrofil . Ia mengembalikan ruh - ruh itu ke alam jasmani , menjadikan jasmani baru untuk berkumpul dengan ruhnya kembali.
Dalam tidur, Ia menjadikan kemuliaan ruh dengan telanjang dari lampunya, inilah rahasia sabda " Tidur adalah saudara kematian ". Seakan - akan ruh hendak dikembalikan kepada kebaruannya ketika siang telah terbit. Ia meletakkan tanggung jawab kepemimpinan dan beban berat di pundaknya , hingga diwaktu pagi itu ia berlari dengan gelombang . Ia menjaganya karena tanggung jawabnya membawa  bebannya yang baru.

Mudah - mudahan Allah menjaga ruh - ruh kita, sebagaimana yang diperbuatnya pada  ashabul Kahfi, atau sebagaimana Ia memelihara perahu Nuh , sehingga membebaskannya dari keganasan topan dan kebisingan hati. Inilah mata dan itu telinga.
Banyak dari mereka yang menjadi  ashabul kahfi di dunia ini . Sekarang mereka ada di dekatmu atau di hadapanmu. Bala tentara bersama mereka , teman membisiki mereka , tetapi Allah telah menyetempel pandangan dan penglihatanmu. Lalu dimanakah pemberian untukmu dari perwujudan mereka ?.

Khalifah berkata kepada Laila , " Apakah engkau yang menjadikan Majnun berpikir picik dan melenceng ?, padahal engkau bukan orang yang cantik luar biasa."
Diamlah ! kata Laila kepada Khalifah " karena engkau bukan si Majnun ".
Setiap orang yang memberi peringatan ( untuk alam material )  ia berada dalam kantuk (dari alam ruh ) dan kesadarannya lebih buruk dibandingkan dengan tidurnya . Dan ketika ruh - ruh kita tidak sadar untuk kebenaran, maka sadarnya kita bagaikan tertutupnya pintu.
Setiap hari ,diri menikam dan memukul khayalan karena kemelaratan , keuntungan, ketakutan dan kemelencengan, sedang Kemurnian tidak tersisa , begitu juga kelembutan dan keriangan, dan tak ada lagi jalan menuju langit.
Sungguh, yang mengikatkan angan - angan disetiap imajinasi lalu melepaskannya, maka dialah manusia yang tenggelam dalam tidur.


@A.Ramdhon# daribkitab : Masnawi / Jalaluddin Rumi. # Beirut. Al- Maktabah Al- Ashriyah. 1966.

0 komentar :

Posting Komentar

Back To Top