Sabtu, 03 Desember 2016

JADIKAN UJIAN SEBAGAI KENIKMATAN





Pekalongan . Padepokan Amongraga ( Al - Nawadir). Amat Ramdhon -
Syekh Abdul Qadir Jailani dihadapan para muridnya. menyampaikan

Allah memberikan ujian dan cobaan bukan karena Dia murka kepada hambaNya. Jangan memandang ujian dan cobaan itu sebagai sesuatu ‘yang tidak menyenangkan,’ tetapi terimalah sebagai bentuk ‘perhatianNya’ kepadamu. Engkau dipersiapkan Allah untuk menjadi manusia yang tangguh dan memiliki kesabaran dalam penghambaan kepadaNya.

Wahai manusia! Engkau tidak bisa lari dari ujian dan cobaan. Engkau tidak bisa menghindar atau menunda qadha (ketentuan )Tuhan. Sekalipun dirimu bersembunyi di dalam goa atau lubang semut, jika Allah berkehendak, engkau tak berdaya sama sekali. Ujian dan cobaan adalah suatu keharusan. Jika tidak ada ujian dan cobaan, akan banyak sekali manusia yang mengkau dirinya sebagai wali. Karena itu, sesungguhnya ujian dan cobaan adalah ‘pengejahwantahan’ bagi dirimu untuk membedakan manusia yang terpilih dan agar engkau bisa mendekat kepadaNya. Melihatmu agar bisa menyintai Allah secara utuh, tanpa terbagi dengan makhluk lain.

Wahai manusia! Para wali sangat menyintai Allah, sehingga mereka pun kemudian buta dan tuli terhadap selainNya. Mereka mengajak bicara manusia dengan tutur kata yang halus, lembut, kadang-kadang humor. Namun terkadang marah kepada mereka karena melihat manusia mendurhakai Allah. Kemarahannya karena Allah.

Kemarahan para wali kepada manusia bukan karena nafsunya, tetapi karena ingin meluruskan mereka agar bisa sama-sama menempuh jalan kebenaran, Wali Allah adalah pembidan orang yang tahu persis bahwa setiap penyakit memiliki terapi pengobatan yang berbeda-beda. Dari sisi hati, para wali ini berada di hadapan Allah sebagaimana pemuda dalam kisah al-Kahfi yang dibolak-balikkan oleh Jibril.

Mereka –para wali- menyerahkan dunia pada para pencari dunia, menyerahkan akhirat pada para pencari akhirat. Mereka tidak mencari dunia dan akhirat, namun hanya  mencari Tuhan saja. Mereka tidak pernah menggenggam tangan (kikir). Apa saja yang diminta manusia, dengan senang hati diberikannya. Bahkan pahala akhirat pun direlakannya. Duniawi diberikan kepada para fakir dan yang lebih membutuhkannya yakni jalan untuk menuju kepada Tuhannya.

Wahai manusia! Tuhan mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitabNya, serta memberi ancaman dan peringatan dalam rangka membangun moral manusia. Para rasul kemudian memiliki pewaris dan wali-wali Allah. Mereka memperingatkan dirimu bukan tanpa nash ( dalil ), tetapi menggunakan argumentasi al-Qur’an dan al-Hadis.

Orang bodoh memandang sesuatu secara kasat mata. Orang berakal memandang dengan mata akalnya. Orang arif (makrifat) memandang dengan mata hatinya sehingga mengetahui isi dari balik isi (mengetahui hakikatnya). Jika memandang manusia dan dunia ini, sepertinya tak tampak oleh mata batinnya. Mata batinnya hanya memandang Allah Azza wa Jalla saja. Ketika itulah ia berkata: “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.(Q.S Al-Hadid 3)

Yang dimaksud dengan: Yang Awal ialah, yang telah ada sebelum segala sesuatu ada, Yang Akhir ialah yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah, Yang Zhahir ialah yang nyata adanya karena banyak bukti-buktinya dan Yang Bathin ialah yang tak dapat digambarkan hikmat Dzat-Nya oleh akal.

Tiada rasa cinta kecuali kepada Allah. Tiada rasa rindu kecuali kepadaNya. Ia menjadikan cintanya istiqamah dengan dibuktikan menjalani takwa di dunia dalam segala keadaan.

Sebagian kaum shalih berkata, “Turutilah Allah Azza wa Jalla dalam berhubungan sosial (dengan manusia), dan jangan turuti manusia dalam (berhubungan) dengan Allah. Hancurkanlah orang yang hancur dan baiklah orang yang baik.”

Wahai murid-muridku! Sadarlah bahwa setan,hawa nafsu,tabiat dan sifat buruk adalah musuh-musuhmu, maka berhati-hatilah dan jauhilah. Janganlah sampai mereka  menjerumuskanmu ke dalam jurang kebinasaan. Belajarlah, sehingga engkau mengerti bagaimana cara memusuhi dan mewaspadai mereka. Bagaimana pula semestinya engkau menyembah Tuhanmu. Sesungguhnya Dia tidak menerima ibadah orang bodoh.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang beribadah menyembah Allah dengan (landasan) kebodohan, maka apa yang dirusaknya lebih banyak daripada apa yang diperbaikinya.”

Karena itu ibadah orang bodoh (yang tidak mengetahui ilmu ibadah) tidak berarti apa-apa,justru malah menyesatkan. Bahkan ilmu ulama pun tidak berguna sama sekali jika tidak diamalkan. Begitu pula, ilmu yang diamalkan pun tidak bermanfaat jika tidak disertai ikhlas. Semua itu tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukankah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, “Orang bodoh hanya disiksa sekali saja, sementara ulama disiksa tujuh kali.”

Orang bodoh disalahkan karena mengapa ia tidak tahu. Sedangkan ulama disalahkan karena ia tidak mengamalkan ilmunya. Maka belajar dan amalkan! Ketahuilah bahwa hal tersebut adalah muara setiap kebaikan. Jika engkau mendapatkan ilmu,lalu engkau amalkan dan kau beritahukan kepada orang lain, dirimu akan mendapat pahala.

Pada hakikatnya, dunia adalah kegelapan. Dengan ilmu, dunia bisa diterangi. Orang yang tidak berilmu, ia akan terjerumus dalam kegelapan ini, dan akan menimbulkan lebih banyak kerusakan.

Wahai ulama, orang yang mengaku berilmu! Carilah ilmu dengan niat untuk bekal menuju Tuhanmu. Carilah ilmu dengan ikhlas dan hati bersih, Jangan engkau mencari ilmu dengan nafsu,tabiatmu. Tanggalkan perasaan riya’. Jangan mencari ilmu disertai hati riya’,munafik dann kesombongan. Mencari ilmu denga disertai niat yang demikian itu tidak akan bermanfaat, tapi justu menimbulkan bencana. Jika dirimu riya’ berarti engkau mencoba menipu Tuhan. Padahal Tuhan mengetahui apa saja yang ada di dalam hatimu. Tuhan mengetahui apakah engkau berada dalam gelap atau terang,berada dalam keramaian atau kesunyian.

Maka katakanlah dalam hatimu, “Betapa celaka, malu dan buruknya diriku! Bagiamana Allah al-Haq melihat semua yang ku lakukan di siang dan malam yang ku lalui. Dia mengetahui lintasan hatiku. Dia Maha Melihat tetapi aku tidak malu pada pandanganNya.”

Wahai manusia! Bersikaplah santun kepada Tuhan. Hentikan sikap kekurang ajarmu. Bertaubatlah, tunaikan kewajiban dan jauhi larangan. Tinggalkanlah kebajikan-kebajikan yang lahir dan peliharalah hatimu dari lintasan-lintasan nafsu.

Jika engkau bisa beristiqamah menjalankan yang demikian, engkau akan sampai ke pintuNya dan dekat denganNya. Akhirnya Dia menyintaimu dan merahmatimu. Kemudian di dalam dirimu memiliki aura sehingga manusia sama-sama menyintaimu.

Jika Allah dan malaikatNya menyintaimu, maka semua manusia menyintaimu, kecuali orang munafik dan orang-orang kafir. Sebab orang munafik dan orang kafir memang tidak menuruti Allah dalam menyintaimu. Setiap orang yang memiliki iman di dalam hatinya tentu akan menyintai orang mukmin, sedang setiap orang yang di hatinya bercokol kemunafikan, selamanya akan membencimu. Karena itu, engkau tidak perlu menghiraukan mereka. Bersikaplah seperti engkau tidak perlu menghiraukan mereka. Bersikaplah seperti engkau menghadapi hawa nafsumu. Mereka dapat meberikan apa-apa, baik kemaslahatan maupun kemudharatan. Jangan berharap kepada mereka karena tidak akan menguntungkan. Jangan pula takut kepada mereka,karena tidak akan merugikanmu.
"Wallahu  A'lam ".

0 komentar :

Posting Komentar

Back To Top