Kamis, 05 Januari 2017

IMAM GHAZALI : RAHASIA REZEKI

Padepokan Amongraga ( Al-Nawadir ) -Pekalongan  -Carilah harta sebanyak-banyaknya seakan engkau akan hidup selamanya dan beribadahlah dengan rajin seolah-olah engkau akan mati besok. Dunia dualitas ini menghendaki kita seimbang dalam banyak hal termasuk dalam mencari rezeki. Rezeki adalah segala pemberian Allah yang dapat dimanfaatkan, secara material maupun spiritual, baik dunia maupun akhirat. Jadi rezeki bukan hanya uang (harta) semata melainkan bisa berbentuk ketenangan, kedamaian, keberkahan umur, nikmat sehat, keahlian, mudah dalam segala urusan, terhindar dari bahaya, anak yang soleh, istri yang sholehah, kawan yang baik dan masih banyak lagi. Imam Ghazali membagi rezeki dalam dua jenis; rezeki lahiriah dan rezeki batiniah. Rezeki lahiriah berupa berbagai jenis makanan dan minuman untuk keperluan tubuh. Sedang rezeki batiniah berupa pengetahuan dan penyingkapan ruhaniah yang merupakan kebutuhan hati.
Dari kedua jenis rezeki ini Imam Ghazali melihat ada 4 sifat rezeki:
1. Rezeki yang sifatnya dijamin Allah.
2. Rezeki yang sifatnya dibagi-bagi oleh Allah.
3. Rezeki yang sifatnya menjadi milik sendiri.
4. Rezeki yang sifatnya dijanjikan Allah secara tak terduga .

*Rezeki yang sifatnya dijamin oleh Allah Yang termasuk kedalam rezeki ini adalah rezeki tingkat dasar seperti makanan dan pakaian. Allah menjamin ketersediannya selagi kita masih merupakan makhluk “bergerak” sesuai dengan (QS: Surat Hud ayat 6): “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. 

*Rezeki yang sifatnya dibagi-bagi oleh Allah Rejeki ini dapat dimiliki sesudah kita berusaha. Tanpa berusaha, meskipun berdoa terus-menerus rejeki ini tidak akan kita miliki. Hanya orang-orang yang mau dan rajin berusaha sajalah yang mendapat porsi besar dari pembagian rezeki ini.

Imam Ali mengatakan : “Carilah rezeki yang telah terjamin dan berlimpah yang (hanya) disediakan bagi yang mencarinya”. Seekor burung dijamin rezekinya oleh Allah namun Ia tidak menempatkan makanan dalam sarangnya. Burung harus terbang keluar menjemput rezeki yang ditebar Allah dimuka bumi ini. 
Seperti halnya burung , sudah sunatullah bahwa manusia harus berupaya mendapatkan rezekinya, apalagi ia menghendaki perbaikan atau perubahan hidup. Seperti yang sudah jelas dikatakan oleh (QS: surat Ar-Ra’d ayat 11) “God does not change the condition of the people until they change them selves”.
Besarnya niat dan upaya amat menentukan dalam mendapatkan rezeki ini, semakin besar niat dan upaya semakin besar pula rezeki yang bakal kita dapat. Tidaklah manusia mendapat apa-apa, kecuali apa yang telah dikerjakannya (QS : An – Najm ayat 39). 

*Rezeki yang sifatnya menjadi milik sendiri Rezeki ini adalah apa-apa yang sudah kita upayakan dan kemudian diijinkan Allah menjadi milik kita. Rezeki ini bisa saja ‘terlepas’ dari tangan kita untuk suatu alasan pembelajaran. Sesuatu yang sudah menjadi milik kita bisa saja hilang dari kita karena berbagai alasan seperti tidak teliti, sombong dan lupa diri, kurang sedekah, tidak berzakat, diuji dsb-nya. Yang jelas semuanya itu adalah pembelajaran buat diri dan lingkungan sekitar kita.

*Rezeki yang sifatnya dijanjikan Allah secara tak terduga Rezeki yang dijanjikan tak terduga ini seringkali dikaitkan dengan suatu amalan tertentu seperti berbuat baik, bersyukur, sedekah, silaturrahim, bertakwa dan tawakal, istigfar dsbnya. 

*Berbuat baik dasarnya (QS: Al-Zalzalah 7-8) Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. 

*Bersyukur dasarnya adalah (QS: Ibrahim ayat 7) “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

*Sedekah dasarnya adalah (QS: Al Baqarah 261-262). Dari ayat ini jelas Allah mengatakan bahwa orang yang bersedekah atau berinfak dengan hati yang ikhlas serta tidak diiringi riya dan sombong maka ganjarannya bisa sampai 700 kali lipat. 

"Silaturrahim dasarnya adalah ( HR. Al-Bukhari ). Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw bersabda : “ Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya ( kebaikannya ) maka bersilaturahmilah !! 

*Bertakwa dan tawakal dasarnya adalah (QS: At-Thalaq ayat 2-3) : Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” Istigfar dasarnya adalah (QS. Nuh: 10-12) “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. 

Jadi  dapat kita simpulkan bahwa ada dua jalan atau cara yang bisa kita tempuh untuk mendapatkan rezeki berlimpah yang ditebar Allah Yang Maha Kaya di muka bumi ini. Bisa melalui kerja keras dan upaya langsung atau lewat amalan dan perbuatan baik yang dijanjikan Allah bisa datang dari arah yang tak terduga. 

Hidup adalah serangkaian pilihan-pilihan dan jalan mana pun yang anda pilih dalam menjemput rezeki impian anda pastikan niat dan keyakinan anda cukup kuat dan konsisten dalam menginginkan rezeki tersebut. Mengulang kalimat Imam ali diatas : “Carilah rezeki yang telah terjamin dan berlimpah yang (hanya) disediakan bagi yang mencarinya”. Dan ingat pula bahwa sebagian besar yang kita dapatkan adalah hasil dari apa yang kita niat dan yakin.

@Amat Ramdhon Jayaningrat.

0 komentar :

Posting Komentar

Back To Top