Kamis, 15 Juni 2017

Hati bagaikan cermin yang memperoleh pengetahuan.

Hal : 10.
Foto : Cermin.
17 - Juni - 2017.

Hati sebagai Cermin.
------------------

Padepokan Al-Nawadir- Pekalongan.
Kamu juga mesti mengetahui apa yang tersembunyi dibalik itu semua, karena hati ibarat cermin , dan lauh Mahfudz juga ibarat cermin, sebab di dalam nya terdokumentasi seluruh​ gambaran wujud. Ketikasebuah cermin berhadapan dengan cermin lainnya, maka tersingkaplah gambaran masing-masing wujud dari keduanya. Begitu pula gambaran wujud yang berada di lauh Mahfudz akan tampak dengan jelas dalam cermin hati yang kosong dari nafsu keduniawian. Jika hati penuh dengan nafsu keduniawian, maka ia akan terhalangi dari dunia malakut.
Ketika seseorang yang tidur dengan hati yang kosong dari pengaruh indera, maka akan tampak kepadanya seluruh substansi dunia malakut, dan tampak pula sebagian gambaran wujud yang terdokumentasi di lauh Mahfudz.

Jika pintu indera terkunci, maka yang terjadi sesudahnya adalah gambaran alam khayal. Oleh karenanya, gambaran yang tampak adalah sesuatu yang berada di bawah kulit luar, meski tidak terungkap kebenaran nyata.

Jika hati ditinggal mati oleh pemiliknya, maka daya imajinasi dan indera tidak akan berfungsi lagi, dan apa yang dilihat pada saat itu tidak bersumber dari dugaan dan tidak pula dari daya imajinasi, sebagaimana difirmankan oleh Allah :

" Maka Kami singkapkan darimu tutup matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam".( Q.S. Qaf :22).

Hati yang memperoleh pengetahuan.
---------------------
Ketahuilah bahwa pada setiap hati manusia terdapat ide kebenaran dan realitas nyata yang diperoleh melalui Ilham. Pengetahuan ini tidak diperoleh melalui jalur indera, tetapi langsung menyelinap ke dalam hati tanpa diketahui dari mana ia berasal, karena hati berasal dari dunia malakut, sedangkan indera diciptakan untuk dunia ini, yakni dunia mulk ( dunia bawah ). Dengan demikian , seseorang akan terhalang untuk melihat dunia ini, jika hatinya tidak kosong dari kesibukan indera.

@Amat Ramdhon - ( Kimiya as-Sa'adah- Al-Ghazali )..... bersambung

0 komentar :

Posting Komentar

Back To Top