Sabtu, 10 Juni 2017

Kimiya as-Sa'adah - Menyelami Dunia Hati.

Hal : 4

Foto ilustrasi hati

 
Menyelami Dunia Hati

11 - Juni -2017.


Padepokan Al-Nawadir- Pekalongan.

Jika kamu ingin mengenal diri sendiri, maka ketahuilah bahwa dirimu terdiri dari dua unsur : pertama Qalb (hati), dan kedua nafs (jiwa)  dan ruh.  Jiwa (nafs) adalah hati yang kamu kenal dengan istilah mata batin.
Hakikat dirimu yang sebenarnya adalah batin, karena jasad adalah unsur pertama sedangkan batin adalah unsur terakhir. Begitu pula sebaliknya: nafs adalah unsur terakhir sedangkan batin adalah unsur pertama yang dikenal dengan sebutan hati.
Yang dimaksud hati disini bukanlah sepotong daging yang terletak pada dada bagian kiri, karena hati dalam pengertian ini juga dimiliki oleh bintang dan orang-orang yang telah mati.

Setiap sesuatu yang dapat kamu tangkap dengan penglihatan fisik, maka ia adalah bagian dari dunia yang dikenal dengan alam syahadah ( dunia kasat mata). Sementara hati bukan termasuk dunia ini, melainkan dunia metafisik, dan posisinya di dunia ini sebagai sesuatu yang asing. Potongan daging tersebut tersusun dari beberapa unsur, dimana setiap anggota tubuh adalah pasukan-pasukan nya, sementara ia sendiri sebagai raja.
Ia mempercayai sifat mengenal Allah dan menyaksikan indahnya kehadiran-Nya, ia dikenakan beban kewajiban dan perintah lainnya, ia juga akan mendapatkan pahala dan siksa, mengalami kebahagiaan dan kecelakaan, dan selalu diikuti oleh ruh kebinatangan.

Mengenai hakikat dan sifatnya merupakan kunci utama untuk mengenal Allah SWT. Dengan demikian, kamu harus berusaha untuk mengenalnya , karena ia merupakan substansi mulia yang berasal dari substansi malaikat, dan substansi ini berasal dari  hadirat Ilahiyah ( kehadiran Tuhan). Dari tempat ini ia datang dan​ ke tempat ini pula ia akan kembali.


Menyelami Dunia Ruh.
Ketika kamu menyoal tentang hakikat hati , maka syari'at tidak akan memberikan jawaban yang lebih memuaskan dibandingkan firman Allah SWT :

" Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu masuk urusan Tuhan mu". (Q.S Al- Isra':85).

Karena ruh merupakan esensi tak terpisahkan dari kekuasaan Tuhan yang masuk dalam dunia Amr ( titah Tuhan) sebagaimana firman Allah Azza wa jalla :

"Ingatlah menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah" (Q.S. al-A'raf:54).

Di satu sisi manusia tercipta dari dunia makhluk, dan sisi lain dari dunia Amr (titah Tuhan).
Setiap sesuatu yang dapat diukur, ditakar, dan didekati melalui sebuah cara, maka ia termasuk dunia makhluk. Sementara hati tidak dapat diukur maupun ditakar, oleh karenanya ia tidak memiliki pembagian aksiomatis. Seandainya ia memiliki pembagian aksiomatis  tentulah ia berasal dari dunia makhluk. Jika ia tercipta dari kebodohan, maka ia akan menjadi bodoh. Dan jika tercipta dari kepandaian , maka akan menjadi pandai.
Setiap sesuatu yang didalamnya terdapat unsur kebodohan sekaligus kepandaian, pasti itu mustahil adanya. Dengan pengertian lain, ia berasal dari dunia Amr (titah Tuhan), karena dunia titah merupakan gambaran dari sesuatu yang tidak dapat diukur dan diperkirakan.

Sebagian manusia ada yang mengira bahwa ruh bersifat dahulu (qadim), padahal perkiraan mereka sungguh keliru. Ada pula sebagian mereka yang mengatakan bahwa ruh adalah 'ardh (aksiden, sifat) pernyataan mereka juga keliru, karena 'ardh (aksiden, sifat) tidak dapat berdiri sendiri, melainkan melekat pada benda selainnya. Ruh adalah asal tercipta nya keturunan Adam dan dari wadah ruh itu pula mereka berasal , lalu bagaimana ia dapat disebut 'ardh (aksiden, sifat)?
Ada juga sebagian mereka yang mengatakan bahwa ruh adalah jism (materi). Pernyataan mereka juga keliru.karena jism ( materi) menerima pembagian aksiomatis.
Ruh yang kami sebut sebagai hati adalah sebuah wadah untuk mengenal Allah yang tidak berbentuk jism (materi) maupun ard (aksiden, sifat), melainkan berasal dari substansi malaikat.

Mengenal ruh adalah pekerjaan yang sangat sulit , sebab dalam agama sendiri tidak diajarkan cara untuk mengetahuinya, karena agama memang menganggap hal itu kurang penting. Agama hanyalah berupaya sungguh-sungguh untuk mengetahui tanda-tanda hidayah (petunjuk Tuhan) sebagaimana firman  Allah SWT :

"Dan orang-orang yang berjihad untuk Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami."( Q.S Al- Ankabut:69)

Barang siapa yang tidak berusaha sungguh-sungguh, maka ia tidak diperbolehkan membicarakan tentang hakikat ruh.
Fondasi pertama dalam bermujahadah adalah mengenal pasukan hati , karena seorang yang tidak mengenal pasukannya, maka perjuangannya sia-sia.


@Amat Ramdhon......................nantikan pengajian berikutnya#bersambung.

0 komentar :

Posting Komentar

Back To Top