Minggu, 11 Juni 2017

Memposisikan Hati sebagai Raja.

Hal : 6



Foto : ilustrasi Kerajaan hati


13- Juni - 2017

Padepokan Al-Nawadir - Pekalongan.
Ketahuilah bahwa syahwat ( nafsu, ambisi ) dan ghadap ( amarah, emosi ) adalah sebagai pelayanan jiwa yang setia. Keduanya berfungsi mengatur makanan , minuman dan keinginan untuk kawin yang semuanya itu bersumber pada panca indera.

Sementara nafs ( jiwa ) menjadi perhatian indera dan perangkap sekaligus pengontrol akal, yang dengannya seseorang dapat menyaksikan semua ciptaan Yang Maha Kuasa. Indera menjadi perhatian akal . Sementara hati sebagai pelita dan sumber cahaya sehingga dengannya seseorang dapat menyaksikan kehadiran Tuhan.

Karena Ketahuilah, bahwa sesungguhnya surga merupakan bagian takdir dari perut dan kemaluan, dan dengan keduanya pula seseorang menjadi terhina di sisi surga.
Sedangkan akal menjadi pelayan bagi hati dan hati diciptakan untuk menyaksikan indahnya kehadiran Tuhan.
Barangsiapa berjalan dalam koridor ini, maka ia akan menjadi hamba Tuhan terkasih yang mampu menyaksikan kehadiran-Nya, sebagaimana firman Allah SWT :

" Dan Aku tidak menciptakan Jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku," ( Q.S adz- Dzariyat:56 ).

Artinya, sesungguhnya Kami (Allah ) telah menciptakan hati dan menganugerahkan kepadanya kedudukan raja dan pasukan, dan Kami jadikan jiwa sebagai kendaraan yang dapat menghantarkan nya dari alam debu (kehinaan ) menuju alam tertinggi.

Jika seseorang ingin merasakan anugerah  ini, hendaknya ia duduk layaknya seorang raja yang berbeda di tengah-tengah  singgasananya dan menjadikan kehadiran Tuhan sebagai kiblat dan tujuannya, menjadikan akhirat sebagai tempat tinggalnya yang abadi, jiwa sebagai kendaraanya , dunia sebagai tempat persinggahannya, tangan dan kaki sebagai pelayanannya, akal sebagai menterinya, nafsu sebagai buruhnya, amarah sebagai polisinya dan indera sebagai spionasenya.

Masing-masing menjadi wakil dari dunia berbeda yang memiliki karakter yang berbeda pula. Misalnya daya berimajinasi terletak pada otak bagian depan, layaknya seorang pemimpin yang menerima informasi dari para spionase, sementara daya menghafal berada pada otak bagian tengah, ibarat pemilik peta yang berusaha mengumpulkan data dari pemimpin tersebut dan ia memeliharanya untuk dikirim kepada akal.
Jika informasi-informasi tersebut telah diterima oleh menteri, maka sang menteri akan mengetahui kondisi kerajaan sebagaimana adanya.

Jika kamu mendapati salah satu dari mereka melanggar perintah mu, misalnya pelanggaran yang dilakukan oleh nafsu dan amarah, maka kamu sedapat mungkin menindaknya tanpa harus membunuhnya, karena kerajaan tidak akan tenang tanpa jasa keduanya.

Jika kamu mampu melakukan itu, maka kamu adalah orang yang beruntung dan kamu telah telah memanfaatkan nikmat dengan sebaik-baiknya, karena kamu mampu mengatasi saat itu juga. Dan jika tidak, niscaya kamu menjadi orang yang merugi dan berhak mendapatkan hukuman dan siksa.


@Amat Ramdhon #( Kitab Kimiya as-Sa'adah - Imam Ghazali.)

0 komentar :

Posting Komentar

Back To Top