Sabtu, 17 Juni 2017

Menyaksikan Keajaiban dalam Keadaan Sadar.

Hal : 11.
Foto : Keajaiban Alam.
18 - Juni - 2017.

Padepokan Al-Nawadir - Pekalongan.
Kamu jangan mengira bahwa rahasia yang pernah kami terangkan diatas hanya akan tersingkap dalam keadaan tidur atau ketika mati saja, tetapi ia juga termasuk dalam keadaan sadar bagi orang yang berusaha sungguh-sungguh dan sering melakukan riyadhah ( latihan jiwa), terhindar dari pengaruh nafsu dan amarah serta dari akhlak tercela dan perilaku buruk. Jika seseorangduduk di tempat yang sunyi dan mengosongkan jalur indera, membuka penglihatan batin dan pendengarannya, membiarkan hati berhubungan dengan dunia malakut seraya berdzikir terus-menerus dengan menyebut Allah, Allah, Allah dengan hati dan lisannya, hingga ia merasa betul-betul tidak menerima informasi apapun baik dari dirinya sendiri maupun dari dunia ini, dan dia tidak melihat apapun kecuali Allah SWT, maka kemapuan luar biasa akan terjadi. Dalam keadaan sadarnya ia dapat melihat sesuatu yang dilihatnya saat tidur dan akan tampak baginya ruh-ruh malaikat dan para nabi, wujud-wujud yang indah penuh pesona dan anggun serta tersingkap baginya kerajaan langit dan bumi.
Ia akan menyaksikan sebuah kenyataan yang tidak dapat diurai dan dicirikan, sebagaimana sabda Nabi saw :

"Bumi dikerutkan bagiku hingga aku dapat melihat sesuatu yang berada di timur dan barat."

Allah SWT berfirman :

"Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan di langit dan bumi."(Q.S. al-An'am:75).

Karena seluruh pengetahuan Nabi as, diperoleh melalui jalur ini dan bukan jalur indera, sebagaimana firman Allah SWT:

Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan."(Q.S .al-Muzammil : 8).

Dalam arti bahwa hatinya bebas dan bersih dari segala sesuatu serta senantiasa berdoa kepada Allah SWT dengan sepenuh harapan.

Pada saat sekarang ini, jalan tersebut dikenal dengan sebutan jalan para sufi, sedangkan jalan pengajaran lebih banyak ditempuh oleh para ulama. Kedudukan yang mulia ini akan lebih mudah ditempuh melalui jalan kenabian. Fenomena yang serupa dengan diatas adalah ilmu para wali, karena ilmu tersebut sampai ke hati mereka tanpa adanya perantara, melainkan dari Hadratul Haq, sebagaimana firman Allah SWT :

" Telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami".( Q.S Al- Kahfi:65).

Jalur ini tidak dapat dipahami kecuali dengan tajribah ( pengujian), karena sesuatu yang tidak dapat diperoleh melalui rasa, maka tidak dapat diperoleh melalui pengajaran. Namun hal yang mesti dilakukan adalah meyakininya sehingga cahaya kebaikan tidak terhalang bagi dirinya, yakni cahaya dari keajaiban hati. Barangsiapa tidak melihatnya​, maka ia tidak akan meyakininya, sebagaimana firman Allah SWT :

"Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya."( Q.S Yunus:39).

Dan firman yang lainnya :

"Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata : ini adalah dusta yang lama."( Q.S. Al- Ahqaf:11).

Menjaga kesucian hati
------------------
Janganlah kamu menduga bahwa fenomena diatas hanya tertentu bagi para nabi dan para wali, karena substansi manusia menurut asal kejadiannya ditujukan untuk itu. Sama misalnya dengan besi yang dijadikan dengan bahan pembuatan cermin untuk melihat wajah dunia. Kalau cermin tersebut berkarat atau ternoda, berarti ia butuh dikilapkan atau dibersihkan. Karena jika demikian, ia akan menghasilkan gambaran yang rusak. Begitu juga dengan kondisi hati, jika dikuasai oleh nafsu dan maksiat, maka ia tidak akan mampu mencapai derajat ini, meskipun semestinya ia dapat menggapainya sebagaimana sabda Nabi saw :

" Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci "

Demikian pula manusia menurut fitrahnya meyakini rububiyyah ( ketuhanan) sebagaimana firman Allah SWT :

"Fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu".( Q.S ar- Rum :30)

Para nabi dan para wali adalah keturunan Adam juga, sebagaimana firman Allah SWT :

"Katakanlah : Bahwa aku hanyalah seorang manusia seperti kamu".( Q.S Fushshihat:6)

Barangsiapa menanam, maka ia akan menuai. Barangsiapa berjalan maka akan sampai. Dan barangsiapa mencari​, maka ia akan mendapatkan. Upaya pencarian tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali dengan mujahadah ( bersungguh-sungguh) , sebagaimana pencarian yang dilakukan oleh seorang Syaikh alim dan bijaksana dengan melalui jalur ini. Jika kedua perkara diatas sudah tercapai , maka Allah dengan ketentuan azali-Nya akan menganugerahkan penolongan dan kebahagiaan hingga ia mencapai derajat ini.

@Amat Ramdhon ( Kimiya as-Sa'adah/ Al- Ghazali)..... bersambung.


0 komentar :

Posting Komentar

Back To Top